KEDUDUKAN DAN FUNGSI MAQASHID SYARI’AH

0

Kedudukan Maqashid Syari’ah

Dr. Said Ramadhan Al-Buthi menegaskan bahwa mashlahat itu bukan dalil
yang berdiri sendiri seperti halnya Al-Quran, hadits, ijma’ dan qiyas. Tetapi
mashlahat adalah sebuah kaidah umum yang merupakan kesimpulan dari sekumpulan
hukum yang bersumber pada dalil-dalil syar’i.
Mashlahat bukan dalil yang berdiri sendiri, tetapi mashlahat adalah kaidah
umum yang disarikan dari banyak masalah furu’ yang bersumber pada dalil-dalil
hukum.

Maksudnya adalah hukum-hukum fikih dalam masalah masalah furu’ dianalisi
dan disimpulkan bahwa semuanya memiliki suatu titik kesamaan yaitu memenuhi dan
melindungi mashlahat hamba di dunia dan di akhirat.
Oleh karena itu, mashlahat itu harus memiliki sandaran baik Al-Quran, hadits,
ijma’ ataupun qiyas. Minimal, tidak ada dalil yang menentangnya. Jika mashlahat
tersebut berdiri sendiri, maka mashlahat tidak berlaku dan tidak bisa dijadikan
sandaran. Mashlahat tidak bisa menjadi dalil yang berdiri sendiri serta menjadi
sandaran hukum-hukum tafshili, tetapi legalitasnya harus didukung dalil-dalil syar’i.
Hukum tafshili adalah hukum yang sangat terperinci. Contohnya, yaitu hukum waris.

‘’Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta
yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang
meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka
ibunya mendapat sepertiga" (Q.S. An-Nisa : 11).

Mashlahat dan maqashid syariah tidak bisa dijadikan salah satu alat untuk
memutuskan hukum dan fatwa. Tetapi, setiap fatwa dan ijtihad harus menggunakan
kaidah-kaidah ijtihad lain sebagaimana di dalam bahasan ushul fiqh.
Maqashid syariah atau mashlahat memiliki dua kedudukan yaitu:

Pertama, mashlahat sebagai salah satu sumber hukum khususnya dalam masalah
yang tidak dijelaskan dalam nash. Karena mashlahat adalah inti sari dari semua
sumber hukum.

Kedua, mashlahat adalah target hukum, maka setiap hasil ijtihad dan hukum syari’ah
harus dipastikan memenuhi aspek mashlahat dan kebutuhan manusia. Singkatnya
mashlahat menjadi indikator sebuah produk ijtihad.

B. Fungsi Maqashid Syariah

Seorang faqih dan mufti wajib mengetahui maqashid nash sebelum
mengeluarkan fatwa. Jelasnya, seorang faqih harus mengetahui tujuan Allah SWT.
Dalam setiap syariat-Nya (perintah atau larangan-Nya) agar fatwanya sesuai dengan
tujuan Allah SWT. Agar tidak terjadi -misalnya- sesuatu yang menjadi kebutuhan
dharuriyat manusia, tetapi hukumnya sunah atau mubah. Contohnya adalah puasa
Ramadhan, puasa Ramadhan sifatnya wajib, tetapi untuk orang yang sakit dan tidak
kuat untuk berpuasa, pada hari itu sifatnya menjadi sunnah untuk tidak puasa.
Fungsi maqashid syari’ah ada 3, yaitu :

1. Bisa memahami nash sumber hukum (beserta hukumnya) secara
konfrehensif
2. Bisa menjadikan maqashid syari’ah sebagai salah satu standar (murajjihat)
untuk mentarjih salah satu pendapat fuqaha
3. Memahami ma’alat (pertimbangan jangka panjang) kegiatan manusia dan
mengaitkannya dengan setiap fatwa.

Oleh : Salsabila Khairunnisa Mahasiswa STEI SEBI

Dr. Sahroni, oni,M.A, Ir. Karim Adiwarman A, S.E., M.B.A., M.A.E.P. 2017. Maqashid
bisnis dan keuangan islam. Depok: Rajawali pers