LARANGAN TALAQQI RUKBAN

0

Masih dapat kita temui praktik-praktik perdagangan yang sebenarnya tidak diperbolehkan oleh islam, namun sudah biasa dilakukan diantaranya adalah jual beli dengan cara Talaqqi Rukban. Sebelum kita membahas larangan jual beli dengan cara talaqqi rukban, kita harus mengetauhi dulu apa itu talaqqi rukban. Nah, mari simak penjelasan di bawah ini.

Talaqqi Rukban adalah pembelian barang dengan cara mencegat orang desa sebelum sampai di pasar agar ia dapat membeli barang dengan harga murah. Contohnya, ada pedagang kota ia menyongsong kedatangan barang dari tempat lain yakni dari orang desa yang ingin berjualan di negerinya, lalu pedagang kota tersebut menawar barang dengan harga yang lebih rendah dari harga di pasar, sehingga barang dagangan pedagang desa itu dibeli sebelum ia masuk pasar dan sebelum ia mengetauhi harga pasaran yang sebenarnya.

Menurut jumhur ulama (mayoritas ulama) jual beli seperti ini diharamkam karena adanya pengelabuan, jual beli dengan cara talaqqi rukban juga mengakibatkan supply dan demand tidak bertemu sehingga tidak terjadi pasar yang sehat yang dapat menentukan harga dengan adil.

Rasulullah SAW, menegaskan bahwa talaqqi rukban terlarang dan diharamkan sebagaimana dalam hadis Rasulullah SAW:

نَهَى النبي صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عن تَلَقى الرُّكْبَان
Yang artinya “Rasulullah SAW, melarang talaqqi rukban”

Penjelasan dari hadis diatas Ar-rukban adalah pihak yang mengimpor barang sedangkan talaqqihim maksudnya pihak yang menemui penjual komoditi dan membelinya dari mereka sebelum penjual masuk pasar.

Jadi dilarangnya talaqqi rukban karena terdapat hikmah didalamnya yakni untuk melindungi kemaslahatan umat manusia sehingga tidak menimbulkan kerugian dari salah satu pihak ataupun dari kedua belah pihak.

Jika jual beli semacam ini tidak mengandung dhoror (bahaya) atau tidak adanya penipuan atau pengkelabuan, maka hukum jual beli tersebut sah. Seperti jika pedagang desa mengetauhi harga pasaran barang yang ia jual. Maka tidak menimbulkan kerugian dari salah satu pihak, dan transaksi jual beli telah disetujui oleh kedua pihak, maka transaksi jual beli tersebut hukumnya sah. Karena hukum tersebut berkisaran antara ada atau tidak adanya ‘illah (sebab pelarangan).

Sumber Referensi:
(Maqoashid Bisnis & Keuangan Islam Oleh Dr. Oni Sahroni, M.A., & Ir. Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A.,)
(Muhammad Abduh Tuasikal, MSc)

Terimakasih semoga bermanfaat(
Oleh: Dhany Widiantari (STEI SEBI)