Mengenal lebih dalam Fikih al Waqi

0

oleh: Anita Rosiyanti mahasiswa STEI SEBI

Ketika mendengan kata ‘fikih’ pasti terlintas di pikiran kita akan ilmu hukum- hukum dalam islam. Namun, jika kita membahas fikih al- waqi’, pasti kita bertanya- tanya ‘apa itu fikih al-waqi’? Karena bahasanya yang jarang terdengar di telinga. Maka dari itu, saya ingin memperkenalkan fikih al- waqi kepada para pembaca sekalian.

Fikih al Waqi’ adalah mengetahui akan hal yang ditanyakan dan memahami dengan detail dan benar permasalahan yang terjadi. Bila perlu, untuk memastikan kebenarannya bisa menanyakan hal- hal lebih mendalam kepada pihak yang bertanya, agar tidak salah dalam memahami substansi yang ditanyakan, melakukan hearing dengan pihak- pihak terkait, serta hearing  dengan pakar yang memahami substansi permasalahan dan pihak yang mengetahui kondisi dan tradisi pada saat itu.

Dalam menyelesaikan permasalahan, fikih al- waqi’ merupakan langkah pertama yang harus diambil oleh seorang mufti dan ahli fatwa dalam setiap permasalahan, terutama masalah muamalah yang berhubung dengan kegiatan masyarakat dan maslahat. Masalah muamalah pun selalu berkembang seiring terjadinya perubahan tradisi, gaya hidup, dan teknologi yang berkembang  seiring berjalannya waktu.

Fiqih waqi’ sangatlah penting, karena menentukan status hukum suatu perkara, jika pengidentifikasian fiqhnya benar, maka benar pula hukumnya, begitupun sebaliknya jika pengidentifikasian fiqh salah, maka salah pula hukumnya. Khalifa Umar bin Abdul Aziz berkata:

تحدّث للناس أقضیة (أحکام) بقدر ما أحدثوا من فجور

“Bicaralah kepada manusia tentang permasalahan (hukum) sesuai dengan tingkat kemaksiatannya.”

Dalam proses ifta yang dilakukan DSN, setiap pertanyaan akan dikaji oleh tim yang ditunjuk yang selanjutnya akan diadakan pertemuan dengan pihak yang bertanya (mustafti) untuk memperdalam masalah yang diperkarakan, agar mendapat substansi yang benar, dan benar- benar memahami masalah yang ditanyakan, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam menafsirkan dan mengambil keputusan.

Salah satu contoh fiqih al- waqi’ adalah transaksi giro di bank syariah. Dalam form akad, disepakati bahwa akad antara bank dan nasabah adalah akad wadiah. Namun, setelah ditelaah lebih dalam, akad yang terjadi adalah akad qardh. Mengapa demikian? Karena dalam praktiknya, uang yang diamanahkan di bank, digunakan bank tanpa seizin nasabah, maka bank bertanggung jawab atas uang nasabah jika terjadi kehilangan maupun keadaan lainnya yang merugikan nasabah. Dan praktik tersebut merupakan hukum yang berlaku dalam akad qardh.

As- Samarkandi berkata: ” Setiap barang yang dimanfaatkan dengan cara dikonsumsi, maka itu hakikatnya qardh, dan dinamakan ‘ariah secara majaz.”

 

Sumber: 

Maqashid syariah- Dr. Oni Syahroni, M.A. dan Ir. Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P