AKJ di Persidangan Ajukan Keberatan Atas Keterangan Habib Idrus

0


DEPOK, Sketsaonline – Terdakwa Abdul Kodir Jaelani (AKJ) di dalam persidangan banyak mengajukan keberatan. Hal itu dilontarkan AKJ terhadap keterangan Habib Idrus yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hengki Charles sebagai saksi atas dugaan penipuan atau penggelapan yang dilakukan AKJ terhadap Nenek Arpah.

Adapun keberatan yang diajukan AKJ tersebut yakni mengenai laporan atas dirinya ke Kepolisian. Dalam kesaksiannya, Habib Idrus mengatakan bahwa dirinya tidak ikut ke Kepolisian untuk melaporkan AKJ.

“Yang datang ke Kepolisian itu Ibu Arpah dan anaknya. Saya tidak ikut mendampingi apalagi mengarahkan Ibu Arpah agar melaporkan Abdul Kodir ke Kepolisian,” ujar Habib Idrus saat menjadi saksi, Kamis (20/2/2020), di Ruang Sidang Utama PN Depok.

Atas hal itu, AKJ menyatakan keberatan terhadap keterangan Saksi tersebut.

AKJ juga keberatan atas pernyataan Saksi yang menyatakan mengenai surat pernyataan yang dibuat dan ditandatangani terdakwa perihal pengembalian sertifikat tanah milik Arpah. Dalam keberatannya, AKJ mengatakan bahwa dirinya membuat surat pernyataan itu karena merasa tertekan.

“Fakta yang sebenarnya, saya saat pembuatan surat pernyataan itu merasa tertekan. Saat itu saya di dikte oleh Saksi. Bahkan, Saksi sudah mempunyai konsep suratnya dan saya hanya disuruh untuk menyalin surat tersebut,” tutur terdakwa.

Ketua Majelis Hakim M. Iqbal Hutabarat menanyakan hal itu kepada Saksi.

“Gimana Saksi, terdakwa merasa keberatan atas keterangan saudara. Saksi tetap bertahan pada keterangan saudara atau ada perubahan?” tanya M. Iqbal kepada Saksi yang langsung dijawab, tetap pada keterangannya.

Begitu pula soal kwitansi jual beli terkait luas tanah 299 m2. Menurut Saksi bahwa dirinya tidak pernah lihat luas tanah yang dijual itu seluas 299 m2. Saksi beranggapan, luas tanah yang dijual tersebut seluas 196 m2.

“Saya yakin sebidang tanah yang dijual Ibu Arpah itu seluas 196 m2. Dan saya tidak pernah tahu seluas 299 m2,” papar Saksi.

AKJ kemudian mengajukan keberatan atas pernyataan itu. Ia menjelaskan, Saksi sebenarnya sudah pernah melihat kwitansi transaksi jual beli itu sebelum hal ini menjadi kasus.

“Beliau sebenarnya sudah pernah melihat kwitansi transaksi jual beli tersebut. Saksi melihatnya, saat musyawarah di rumah Almarhum. Saat itu, saya menunjukkan kwitansi jual beli tersebut kepada Saksi yang luasnya 299 m2,” imbuh AKJ.

Dalam persidangan dengan agenda sidang menghadirkan dua saksi dari JPU, diantaranya (1) Saksi Sherly Idawati Tambunan, Notaris/PPAT Cibinong yang membuat Akta Jual Beli (AJB) antara terdakwa dengan Nenek Arpah dan (2) saksi Habib Idrus yang masih memiliki hubungan keluarga dengan terdakwa dimana AKJ adalah adik tiri dari Saksi.

Majelis Hakim yang dipimpin M. Iqbal Hutabarat dengan anggota Nugraha Medica Prakasa dan Forci Nilpa dalam agenda sidang ini, kerap kali melontarkan peringatan. Majelis Hakim di dalam ruang sidang kerap mengingatkan kepada pengunjung sidang dan Saksi yang dihadirkan JPU.

“Bagi pengunjung sidang dimohon tertib dalam mengikuti persidangan. Jangan bolak-balik keluar masuk ruang sidang. Jangan berisik. Tolong hargai persidangan karena semua itu dapat mengganggu jalannya proses persidangan ataupun mengganggu konsentrasi Majelis Hakim,” kata M. Iqbal.

Ia pun turut mengingatkan Saksi yang dihadirkan oleh JPU. Saksi diminta supaya sadar atas sumpah dan janjinya di persidangan.

“Saksi sudah diambil sumpahnya di persidangan. Oleh karena itu Saksi diminta memberi keterangan dengan jujur sesuai apa yang dilihat maupun apa yang didengar. Jangan memberikan kesaksian bohong dan jangan mengambil kesimpulan. Biarkan kami Majelis Hakim yang menentukan kesimpulan atas perkara ini,” tegas M. Iqbal. (Jimmy)