BINGUNG MENENTUKAN KAMPUS

0

oleh : Opi Ramdani mahasiswi STEI SEBI

Siapa yang pernah mengalami ini?. Hampir semua orang pernah mengalami dilema yang satu ini. Fase dimana kita merasa apakah saya harus mengikuti minat bakat atau bahkan kemauan orang tua saya. Ada yang dilema dengan segudang pilihannya padahal orangtua tidak mengekang, ada juga orang yang bahkan pasrah dengan kemauan orangtuanya meski orangtua tidak memaksa. Hanya saja dia merasa “gaada salahnya kalau gue ngikutin apa kata orang tua gue” yaa rata-rata mereka yang memilih nurut dengan orang tuanya sebagian besar karena mereka sendiri tidak tahu sebenarnya  mau kuliah dimana, mau ambil fakultas apa dan bahkan mau jadi apa. 

Tapi disini saya tidak mau menjudge siapa-siapa dengan apa yang orang lain pilih. So, selama pilihan itu baik dan memang niatnya mulia, ingin berbakti kepada orang tua tidak ada salahnya. Setiap orang mempunyai caranya tersendiri untuk memaknai hidup dan menjemput sukses.

Tapi coba kita berfikir lebih jauh dan lebih kritis. Masa iya sih.. “kita mau jadi apa” saja dimasa depan kita tidak tau?. Sadar tidak sih sebenarnya usia kita sudah berapa? Sadar tidak sih sebenarnya kemampuan otak kita bukan lagi seperti kapasitas anak SD? Bahkan anak SD saja sudah tahu cita-cita mereka dimasa depan ingin menjadi apa. Ya walaupun memang megejar cita-cita tidak segampang yang anak SD angan-angankan. Tapi setidaknya kita harus pasang nyali seberani anak SD. Bermimpi tanpa memikirkan apa resikonya. Tuhan akan tahu muara terbaik kamu dimana. Setidaknya upaya kita mengejar kesuksesan itu nyata ada.

Nah berkaitan dengan sukses pasti asumsi pertama kita berkaitan dengan titel. Banyak orang-orang beranggapan bahwa hidup seseorang bisa dijamin kesuksesannya jika minimal pendidikannya adalah S1. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan asumsi ini bahkan bisa menjadi motivasi pendorong untuk kita. Hanya saja terkadang pemikiran atau pola pikir seperti ini yang berkembang dimasyarakat justru akan menimbulkan efek negative bagi mereka yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya sampai dengan lulus dari bangku perkuliahan.

 Apalagi dengan mereka yang memiliki keterbelakangan ekonomi. Satu yang perlu diingatkan bahwa bangku kuliah sama sekali tidak akan menjamin kesuksesan kalian. Titel hanya hiasan semata dibelakang nama kalian. Titel yang yang kita dapatkan bisa jadi nol besar nilainya. Jika attitude sama sekali tak tertanam dalam diri kita. Satu-satunya penjamin kesuksesan kita adalah Tuhan. Maka perbaiki hubungan kita dengan Tuhan. Banyak orang diluaran sana yang bahkan tidak memerlukan bangku kuliah untuk bisa menjemput suksesnya.

Nah.. sebelum kamu ingin melanjutkan pendidikan menuju jenjang yang lebih tinggi, kamu harus tahu dulu apa makna dari kamu mengenyam pendidikan ini. Bukan hanya sekedar formalitas dan sekedar menjalani fase kehidupan. Kamu masuk dunia kampus untuk apa sih? Apa yang kamu cari?. Semuanya harus punya dasar. Menaikkan titel bukan berarti menaikkan gaji, itu hanya bonus dari Tuhan untuk kamu yang sudah bekerja keras menuntut ilmu. 

Menuntut ilmu itu ibadah loh, maka dasari niat mu dengan ibadah supaya Tuhan juga merestui jalannya kamu dalam menuntut ilmu. Sebaik-baiknya manusia adalah yang memiliki banyak manfaat bagi manusia lainnya. Maka jadikan diri kita menjadi sebaik-baiknya manusia dengan memberikan kontribusi besar untuk manusia lainnya. Dalam hal ini yaitu memperbesar nilai manfaat kita bagi lingkungan sekitar. Jangan sampai ilmu yang kita dapat hanya sampai pada diri kita. Jangan sampai pada saat kesuksesan sudah menyapa, kita justru melupakan orang disekitar. Bahkan terkesan mengabaikan. Sukses hanya untuk diri sendiri, se-egois itukah kita?

Berikut beberapa tips buat kamu yang ingin memilih kampus dan fakultas :

  1. Fikirkan tujuan masa depan pendidikan
        Minimal kamu mempunyai perkiraan ingin masuk fakultas apa dan ingin mengambil apa. Banyak orang yang bingung dengan pilihannya sendiri lantaran terlalu banyak, dalam keadaan seperti ini kamu harus bisa mengerucutkan pilihanmu dengan hal yang memang benar-benar akan kamu pilih. Contohnya mempertimbangkan lulusan-lulusan yang akan terserap banyak dalam dunia industry. Pemikiran kritis seperti ini juga diperlukan sambil mengira-ngira seberapa besar daya saing kamu dimasa depan.
  2. Utamakan fakultas dibanding nama kampus

     Banyak orang yang keliru lantaran mereka lebih cenderung mengutamakan nama kampus dibandingkan dengan peminatannya. Atau dalam kata lain mengejar nama kampus karena beranggapan bahwa “jika saya kuliah di kampus A maka saya akan mudah terserap didunia kerja”. Menjual nama kampus. Lalu nilai dirimu apa?. Percuma saja kuliah dikampus ternama jika attitude kita tidak ada, dan kemampuan kita nol.

    Lulusan dari kampus A bisa saja menjadi lulusan berkualitas. Tetapi kamu tidak bisa hanya mengandalkan nama kampus jika dari dalam diri kamu sendiri tidak ada usaha. Banyak orang yang merelakan masa depannya dengan memilih fakultas yang jauh dari peminatannya demi bisa diterima dikampus yang dia impikan. Yang bahkan berakibat buruk dengan proses belajarnya selama dikampus. Terkesan jomplang dengan kemampuannya. Sebelum memilih kampus, sebaiknya kamu mengutamakan fakultas yang akan kamu kejar. Kamu harus punya semangat dan motivasi diri bahwa “saya bisa kok bantu membesarkan nama kampus saya”. Jadi memberikan kesan bahwa kamu juga tidak numpang tenar saja.

  1. Mencari informasi lengkap tentang kampus
        Hal yang juga sangat penting adalah mengenai akreditasi kampus, dosen yang mengajar dan fasilitas penunjang yang ada dikampus. Kamu bisa searching dan mencoba membandingkan, setelah itu kamu bisa melakukan survey bersama orangtua mu. Kenali lebih detail mengenai pilihan mu agar tidak menyesal nantinya. Biaya kuliah juga menjadi hal penting yang wajib  kamu cermati. Jangan sampai kita menyulitkan orangtua. Kamu bisa menyesuaikannya dengan kemampuan ekonomi keluarga. Jangan lupa konsultasi dengan orangtua mu ya…