Bocah 5 Tahun Ini Menangis Saat Anggota TNI Bersiap Tinggalkan Rumahnya

0
Digendongan kakaknya, Risky mengantarkan personel Satgas TMMD yang hendak kembali ke markasnya. (Foto: Boy)

DEPOK – Muhammad Risky Imam Prascoyo, bocah laki-laki berusia 5 tahun, berjaket loreng menangis keras di gendongan ibunya Watini (47), Selasa (13/11/2018) pagi.

Ia bercucuran air mata melihat belasan anggota TNI berpakaian loreng lengkap, bersiap-siap hendak pergi keluar dari rumahnya untuk kembali ke markas mereka.

Sebab selama hampir sebulan ini atau sejak 15 Oktober 2018 lalu, belasan anggota TNI dari Yonif 201 yang merupakan personel Satuan Tugas (Satgas) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 103, diplot tinggal di rumah Watini yang sangat sederhana.

Rumah Watini berada di Jalan Lembah Griya, RT 1/9, Kelurahan Cipayung Jaya, Kecamatan Cipayung, Depok.

Para Satgas memiliki misi atau bertugas melakukan pengerasan dan pengecoran ruas jalan sepanjang 190 meter dengan lebar meter di wilayah itu.

Selama di rumah Watini, para personel Satgas tidur di teras dan ruang tamu rumah Watini sebagai tempat istirahat mereka selepas bekerja melakukan pengerasan dan pengecoran jalan.

Sejak itu pulalah belasan tentara muda yang tinggal di sana menjadi teman dekat Muhammad Risky Imam Prascoyo, bocah 5 tahun anak bungsu sang pemilik rumah Watini.

Bahkan tidak jarang Risky diasuh sementara waktu, oleh para tentara di tengah kesibukan mereka membangun jalan.

Karenanya, begitu tahu masa tugas para anggota TNI berakhir dan hendak meninggalkan rumahnya, Risky menangis keras.

Jaket loreng TNI yang diberikan para personel Satgas TMMD ke Risky dan langsung dikenakannya tak juga membuat Risky tenang.

Di gendongan ibunya, Risky terus merengek agar para personel TNI yang dipanggilnya abang itu, tak meninggalkannya. “Jangan pergi Bang, Risky gak ada teman lagi di sini. Risky mau ikut,” pinta anak kedua dari dua bersaudara itu, sambil menangis.

Melihat rengekan Risky, sejumlah personel Satgas TMMD tampak cukup terharu dan tersenyum. Beberapa diantara mereka langsung berupaya menenangkan Risky.

“Nanti abang akan sering main ke sini. Abang janji akan datang. Risky tenang saja. Kamu harus jaga ibu di sini,” kata Prada Aulia Sholikhin (21), salah seorang personel Satgas TMMD.

Risky sempat tenang dan menghentikan tangisnya. Di gendongan sang Ibu, Watini, yang merupakan single parent, Risky terus memperhatikan para personel Satgas TMMD yang sedang bersiap dan membereskan barang-barang mereka dari teras rumahnya.

Beberapa personel Satgas lainnya, juga tampak membersihkan bagian rumah Watini. Sepertinya para personel Satgas TMMD ingin memastikan bahwa rumah Watini yang mereka inapi selama hampir sebulan ini, bersih saat mereka tinggalkan.

Saat semua anggota Satgas TMMD yang tinggal di rumah itu, berpamitan pada Watini, tangis Risky kembali meledak. Pipinya yang mulai kering, kembali basah oleh air mata. Tangisan Risky membuat mata Watini juga berkaca-kaca. Tari (20) kakak Risky, akhirnya ikut menenangkan adiknya.

Setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih mendalam kepada keluarga dan kerabat Watini, para personel Satgas TMMD pun bergegas.

Mereka berjalan menuju truk dinas TNI yang sudah menunggu di depan masjid berjarak sekitar 50 meter dari rumah Watini.

Truk akan membawa personel Satgas TMMD ke Upacara Penutupan TMMD ke 103 di Lapangan Jembatan Serong, Cipayung.

Di tengah langkah para personel Satgas menuju truk, Risky tak berhenti menangis dan merengek. Dengan merajuk ke sang ibu, Risky meminta ingin digendong para anggota TNI.

Watini kemudian memberikan Risky untuk digendong kakaknya Tari. Tari kemudian membawa Risky dengan berjalan kaki menuju truk dinas yang akan membawa para personel Satgas.

Di sana, sebelum para personel Satgas naik ke dalam truk, mereka memenuhi permintaan Risky untuk digendong sesaat oleh mereka.

Mulai dari Prada Aulia, Prada Sunarto, Prada Nur, Prada Fariadim, Prada Eko dan Prada Putra bergantian menggendong Risky. Tangisnya pun hilang. Hingga akhirnya para personel Satgas TMMD naik ke dalam truk dan meninggalkan sang bocah digendongan kakaknya.

Wajah Risky masih sedih dan terus melambaikan tangan, sampai truk dinas tentara itu hilang dari pandangannya.

Watini, ibu Risky, mengatakan anaknya pasti merasa kehilangan dengan tidak adanya lagi personel Satgas TMMD yang tinggal di rumahnya. Sebab kata dia selama keberadaan personal Satgas TMMD di rumahnya hampir sebulan ini, mereka menjadi teman setia dan teman dekat Risky untuk bermain dan bercengkrama.

“Jadi anak saya merasa kehilangan banyak teman, sewaktu personel Satgas TMMD pergi, makanya dia menangis sejadinya, tadi,” kata Watini.

Kepala Staf Kodam Jaya Brigjen TNI Suharyanto mengatakan dalam setiap kegiatan TMMD, seperti juga di Depok, selalu akan tercipta hubungan emosional serta semangat kebersamaan dan gotong royong antara anggota TNI dan warga.

Hal itu pulalah yang juga pasti dirasakan Risky, bocah warga Kelurahan Cipayung Jaya, Cipayung, Depok serta warga lainnya. Sehingga sang bocah menangis saat personel Satgas TMMD pergi.

“Hal ini dapat dijadikan refleksi kekuatan besar dari segenap komponen masyarakat dalam memiliki visi misi dan tujuan bersama, guna mengatasi berbagai permasalahan pembangunan serta problematika kesejahteraan di masyarakat,” kata Suharyanto.

Ia mengatakan hubungan emosional dan semangat kebersamaan seperti itulah yang sebenarnya merupakan hakikat dari kemanunggalan TNI dan rakyat yang merupakan roh perjuangan bangsa.

“Pelihara hasil program TMMD ke-103 ini dengan sebaik-baiknya, untuk kemaslahatan seluruh warga masyarakat, serta jalin terus silahturahmi dengan warga,” pesannya kepada masyarakat Cipayung dan para personel Satgas TMMD yang sudah menyelesaikan tugasnya di Depok. (Boy)