Bulog Jatim Targetkan Pengadaan Gabah 1,2 Juta Ton

0

Jatim – Perum Bulog Divisi Regional Jawa Timur (Divre Jatim) menargetkan pengadaan gabah dan beras dari petani sebanyak 1,2 juta ton tahun ini, atau lebih tinggi dari tahun lalu 850 ribu ton. Untuk memenuhi target itu, Bulog Jatim menggaet lebih banyak usaha penggilingan sebagai mitranya.

Kepala Perum Bulog Divre Jatim Usep Karyana mengatakan, saat ini ada sekitar 300 usaha penggilingan padi yang menjadi mitra Bulog. Jumlah itu masih mungkin ditingkatkan lagi mengingat di Jatim terdapat 300 ribu usaha penggilingan.

“Kami akan terus sosialisasikan kepada usaha penggilingan untuk bermitra dengan Bulog, sehingga tahun ini bisa mencapai 700 mitra,” kata Usep di Surabaya, pada pekan lalu.

Sementara untuk menarik minat usaha penggilingan, Bulog Jatim menerapkan tiga harga pembelian gabah dan beras petani dengan spesifikasi berbeda. Untuk harga pembelian gabah tertinggi ditetapkan sebesar Rp 4.650 per kilogram (kg) dengan spesifikasi kadar hampa maksimal 3% dan kadar air maksimal 14%, harga Rp 4.200 per kg dengan spesifikasi kadar hampa maksimal 4-6% dan kadar air maksimal 14%, serta harga Rp 4.050 per kg dengan spesifikasi kadar hampa 7-10% dan kadar air 14-18%.

Sementara untuk beras, harga pembelian tertinggi yakni Rp 7.500 per kg dengan spesifikasi derajat sosoh minimal 95%, kadar air maksimal 14%, butir patah maksimal 15%, dan butir menir 2%. Harga pembelian beras Rp 7.300 per kg dengan spesifikasi derajat sosoh minimal 95%, kadar air maksimal 14%, butir patah maksimal 20%, dan butir menir maksimal 2%. Harga Rp 7.150 per kg dengan spesifikasi derajat sosoh minimal 95%, kadar air maksimal 14%, butir patah maksimal 25%, dan butir menir maksimal 2%.

Usep mengharapkan, penerapan tiga harga tersebut akan menarik minat usaha penggilingan untuk menjadi mitra Perum Bulog tahun ini. Divre Bulog juga meyakini semakin banyak mitra Bulog akan mendukung target pengadaan tahun ini sebanyak 1,2 juta ton bisa tercapai. Apalagi, hal itu juga ditunjang dengan upaya memaksimalkan kerja sama dengan berbagai pihak, seperti BUMN lain, dinas pertanian kabupaten/kota, koperasi, koperasi unit desa (KUD), dan gabungan kelompok tani (gapoktan) di Jatim.

“Semua potensi kerja sama untuk meningkatkan pengadaan gabah dan beras tahun ini betul-betul akan kita maksimalkan,” ujar dia.

Menurut Usep, tahun lalu Bulog Jatim menargetkan pengadaan gabah dan beras sebanyak 850 ribu ton dan tercapai sebanyak 770.122 ton atau sekitar 91%. Salah satu penyebab tidak tercapainya target tersebut adalah anomaly cuaca yang ditandai mundurnya musim panen.

Sementara, tahun ini musim panen padi lebih cepat dibandingkan tahun lalu, sehingga tahun ini pengadaan gabah dan beras lebih cepat satu bulan dari tahun lalu. “Awal Februari ini kita sudah mulai melakukan pengadaan. Padahal tahun lalu kita baru mulai pada Maret. Bahkan di akhir bulan ini, kita juga sudah melakukan pengadaan di daerah yang sudah mulai panen raya, seperti Ngawi, Madiun, dan Bojonegoro,” ungkap Usep.

Hal itu, lanjut Usep, juga membuat Perum Bulog Divre Jatim optimistis dengan target pengadaan tahun ini. Apalagi, tahun ini potensi lahan pertanian padi di Jatim cukup luas yang mencapai sekitar 2 juta hektare(ha).

YOYOK