Daging Sulit, Pedagang Bakso di Depok Galau

2

Bakso copyDepok – Sketsa Online

Mahal serta minimnya daging sapi di pasaran akibat mogoknya pedagang daging sapi di beberapa tempat, berimbas pada sejumlah pengusaha bakso di Kota Depok. Hal ini menyebabkan para pedagang bakso di Depok menjadi galau.

Seperti halnya Yatno (47), pemilik warung bakso Condong Raos di Jalan Proklamasi, dekat Pasar Agung ini mengaku, sulit untuk mempertahankan usahanya. Dirinya terpaksa mengambil keputusan mengurangi jumlah karyawan. Ada juga di lain tempat, pengusaha Bakso memilih menutup sementara usahanya sampai harga daging sapi normal kembali, kata Yanto kepada Sketsa.

“ Sementara waktu kami libur berjualan, sampai pedagang daging sapi di pasar kembali berjualan,” ujarnya sambil menambahkan sebenarnya dia tidak mempermasalahkan tingginya harga daging sapi yang mencapai Rp 140 perkilogram, asal pasokannya aman – aman saja .

Masalah harga menurutnya tidak terlalu penting yang pasti ada barangnya, tidak seperti sekarang ini. Kalau kayak begini terpaksa kita libur soalnya dari sananya barang sudah kosong,’’ katanya kepada Sketsa saat ditemui di warungnya di Jalan Gede No. 153 Depok II Timur, rabu 02/09.

Lebih lanjut Yatno menjelaskan, dalam sehari dia membutuhkan 70 kilogram daging sapi sebagai bahan baku pembuatan bakso. Dikatakan, mogoknya pedagang daging sapi merugikan dirinya karena jika tidak ada stok daging maka usahanya tidak bisa berjalan. ‘’Kalau di bilang rugi ya rugi mas, tapi pada dasarnya pelaku usaha ikut saja”, ujarnya.

Dia mengaku telah meliburkan tujuh orang karyawannya dan berharap pemerintah segera menstabilkan harga daging ,agar stok bahan baku tidak terganggu .

Pemilik warung bakso lainya Suparjo, memilih untuk tetap berjualan. Pasalnya, sebelum pedagang melakukan mogok, dia sudah mempersiapkan stok daging. “ Memang sebelumnya kita dikasih tahu bahwa pedagang daging akan libur empat hari. Kita sudah persiapan pada hari Sabtu,” tuturnya saat ditemui di samping Pasar Agung Depok.

Diakuinya, kosongnya pedagang daging sapi di pasar tradisional Depok sangat menganggu. Jika mogok terlalu lama, dia dan pelaku usaha lainnya yang membutuhkan daging sapi akan rugi.

Meski mahal, dia tidak menaikkan harga bakso yang dijual. Namun, terpaksa mengurangi jumlah pekerja demi efisiensi.

Awalnya tujuh orang, kini menjadi lima orang di mana satu orang bisa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. “otomatis kesejahteraan karyawan lebih baik. Tapi kalau harga tinggi, daya beli rendah, cost -nya jadi membengkak,” pungkasnya. (Simon)

Comments are closed.