Dandim 0801 Pacitan : Pemuda Harus Terus Gaungkan Semangat Wawasan Kebangsaan

0


Pacitan, Sketsaonline.com,–Guna membangkitkan semangat pemuda cita tanah air dan memiliki rasa nasionalisme, DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pacitan menggelar seminar kebangsaan, dengan tema membangun bangsa menjaga stabilitas keamanan dan perdamaian tahun 2019.

Kegiatan yang dipusatkan di Pendapa Kabupaten Pacitan tersebut tidak lain bertujuan untuk membentuk karakter pemuda Indonesia, agar tidak pudar oleh perkembangan jaman dan tidak melupakan kearifan bangsa.

Selaku narasumber, Letkol Kav Aristoteles Hengkeng Nusa Lawitang S.I.P, Komandan Kodim (Dandim) 0801 Pacitan menyampaikan beberapa hal terkait pemuda Indonesia saat ini yang sudah mulai berubah. Bahkan, rasa nasionalime generasi muda saat ini sudah mulai pudar dan sangat perlu untuk ditingkatkan serta digelorakan kembali.

“Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter, kepribadian dan rasa cinta tanah air,” ujarnya, dihadapan ratusan peserta seminar, Senin (27/05/2019).

Menurutnya, permasalahan dan tantangan bangsa saat ini adalah rasa kebangsaan yang sudah mulai luntur, eksplorasi alam tanpa terkendali, berkembangnya faham radikalisme serta komunisme. Namun, untuk mengatasi hal itu maka bangsa Indonesia harus kembali kepada UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara.

“Peran pemuda sebagai bagian dari masyarakat yang juga bagian dari akademisi, harus terus menerus menggaungkan semangat wawasan kebangsaan yang menjiwai perumusan kebijakan penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara,” terangnya.

Aristoteles menyebut bahwa ada tiga bagian yang dapat memecah belah persatuan dan keutuhan bangsa, yaitu bidang politik, pemerintahan dan mobilasi masa. Ia menceritakan, dulu bangsa Indonesia sangat disegani karena religius, jujur, sopan, suka menolong dan saling menghormati sesama manusia.

“Saat ini sudah banyak perubahan, masyarakatnya cenderung pemarah, main hakim sendiri dan mudah percaya oleh hasutan-hasutan,” katanya.

Dandim menambahkan, selain persoalan di atas terdapat dua ancaman di Indonesia saat ini, yaitu ancaman militer dan nonmiliter. Namun yang lebih bahaya saat ini adalah ancaman nonmiliter, karena sulit diidentifikasi karena dari masyarakat itu sendiri.

“Bahkan, media elektronik di Indonesia saat ini baru sebatas tontonan dan belum menjadi tuntutan, sehingga banyak acara yang tidak mendidik dan justru dapat memecah belah kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah maupun instansi pemerintah,” tegasnya.

Sementara itu, Hendro Waskudi, salah satu aktifis’98 menyampaikan, peristiwa 1998 merupakan pergerakan pemuda dalam menuntut kebijakan reformasi untuk merubah karakter bangsa ini untuk lebih baik dan jujur serta kebebasan dalam berpendapat dan bukan merupakan pergerakan masa yang untuk menggulingkan pemerintah.

“Pada kasus 1998 itu merupakan kekuatan mahasiswa dalam bentuk gerakan kekuatan satu misi dan tidak ada perbedaan. Karena satu tujuan dan bukan berati memusuhi pemerintah akan tetapi untuk menuntut keadilan dalam berdemokrasi,” ujarnya.

Menurutnya, pemuda dan masyarakat bangsa Indonesia saat ini sudah mulai melupakan budaya sendiri dan sudah mulai terkikis rasa nasionalismenya. Hal ini karena masuknya kebudayaan asing dan berita-berita HOAX. Oleh karena itu, ia menyarankan kepada pemuda untuk terus aktif dalam keorganisasian, agar dapat mengawal tegaknya pemerintahan yang adil dan makmur.

“Sangatlah penting kaum pemuda berperan aktif dalam organisasi dan digencarkan guna memupuk rasa nasionalisme yang tinggi, sama-sama memiliki rasa untuk membangun bangsa dan menjaga stabilitas serta keamanan negara yang kita cintai ini,” imbuhnya.

Untuk diketahui, seminar kebangsaan tersebut sedikitnya diikuti 200 orang, baik dari anggota KNPI Pacitan, dan perwakilan dari masing-masing organisasi pemuda di Pacitan. (Sigit).