Di PN Depok, Oknum Polisi Divonis Hakim Selama 13 Tahun Penjara

0

DEPOK, Sketsaonline – Oknum Polisi atas nama Rangga Tianto alias Rangga dengan Nomor Perkara 359/Pid.B/2019/PN Depok oleh Majelis Hakim dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan. Perbuatan itu dilakukan di Mapolsek Metro Cimanggis yang mengakibatkan korban Bripka Rahmat Effendi meninggal dunia.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rozi Juliantono sebelumnya menjerat terdakwa dengan Dakwaan Subsidaritas, yakni Primer, melanggar Pasal 340 KUHPidana atau Subsidair, melanggar Pasal 338 KUHPidana.

Dalam surat tuntutan, JPU menyatakan, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338 KUHPidana dalam Dakwaan Subsidair JPU.

“Menyatakan terdakwa Rangga terbukti bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap korban Bripka Rahmat Effendi. Menuntut terdakwa oleh karena itu berupa pidana penjara selama 13 Tahun,” ucap JPU.

Majelis Hakim PN Depok yang dipimpin Yuanne Marietta dengan anggota Ramon Wahyudi dan Darmo Wibowo dalam pertimbangannya menyebutkan bahwa Rangga tidak terbukti bersalah sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340 KUHPidana.

“Membebaskan terdakwa dari Dakwaan Primer JPU. Menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan sebagaimana melanggar ketentuan hukum dalam Pasal 338 KUHPidana,” papar Hakim Ketua Yuanne dalam pembacaan amar putusan, Rabu (26/2/2020) di Ruang Sidang Utama.

Majelis Hakim berkeyakinan, berdasarkan keterangan Saksi-saksi, keterangan terdakwa serta barang bukti yang dihadirkan di persidangan bahwa terdakwa secara spontanitas dengan emosi yang tinggi sehingga unsur Dakwaan Primer JPU tidak terbukti.

“Menyatakan, barang bukti yang dhadirkan Penuntut Umum di persidangan adalah sah dalam perkara ini,” tutur Yuanne.

Oleh karena Dakwaan Primer, Pasal 340 KUHPidana tidak terbukti, masih kata Yuanne, maka Majelis Hakim membuktikan Dakwaan Penuntut Umum, yakni Pasal 338 KUHPidana.

“Berdasarkan pertimbangan di atas, unsur dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain, unsur tersebut tidak terbukti. Sebab, orang yang dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain berarti menghendaki menghilangkan nyawa orang lain,” pungkasnya.

Atas putusan ini, terdakwa ditanya sikapnya oleh Hakim Ketua. Gimana terdakwa, apakah terdakwa menerima, banding atau pikir-pikir? Yang dijawab, terdakwa menyatakan banding setelah berkonsultasi terlebih dahulu dengan penasehat hukumnya.

“Dengan demikian, perkara ini belum memiliki putusan tetap (belum inkracht)”, tandas Yuanne sambil mengetuk palu menandakan sidang sudah ditutup. (JIMMY)