Disidangkan di PN Depok, WNA Asal Belanda Tak Ditahan

0
Keterangan Foto : Penasehat Hukum terdakwa Rozali Siregar

DEPOK – Ferdinand Eduard De Fretes (77), Warga Negara Asing (WNA) asal Belanda dihadirkan Penuntut Umum menjadi terdakwa dengan Nomor Perkara 408/Pid.Sus/2020 PN Depok. Adapun Majelis Hakim yang memimpin persidangan Rizky Mubarak Nazario dengan anggota Darmo Wibowo Mohammad dan DR. Divo Ardianto didampingi Panitera Pengganti Edi Sofyan.

Dengan mengenakan kemeja putih, terdakwa yang tidak ditahan di Kepolisian maupun di Kejaksaan, menghadiri persidangan pertama dalam agenda sidang pembacaan surat dakwaan yang digelar di ruang sidang IV Pengadilan Negeri (PN) Depok, Jawa Barat, Rabu (5/8/2020).

Ferdinand oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Indah Sulistio Sapto Karini dijerat dengan Dakwaan Subsidaritas, yakni Primair, perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 44 Ayat (1) UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT Subsidair, dalam Pasal 44 Ayat (4) UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT.

Dalam Surat Dakwaannya, JPU Indah menuturkan bahwa terdakwa melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga terhadap Isterinya Yuliana di Jl. Puring Nomor 25 RT. 01/RW. 07 Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (5/10/2019) lalu.

“Terdakwa dan Saksi Yuliana kerap kali bertengkar. Bahkan, terdakwa seringkali melakukan kekerasan fisik,” ujar JPU Indah saat pembacaan surat dakwaan yang dihadiri terdakwa didampingi Penasehat Hukumnya di PN Depok.

Awalnya, lanjut JPU Indah, saat Saksi Yuliana pulang dari pasar hendak mengambil handphone miliknya yang tertinggal di sepeda motor, Yuliana melihat terdakwa sedang memegang handphone tersebut.

Saat itu, Saksi berkata, “Pi …. Handphone saya”, yang dijawab terdakwa, ” enggak” sambil menampar pipi Yuliana sebanyak dua kali.

Atas hal itu, Saksi mendekati terdakwa dan berdiri di belakangnya. Seketika kemudian, terdakwa membalikkan badannya lalu membenturkan kening terdakwa ke kening Saksi sambil memiting lehernya dengan menggunakan tangan sebelah kanan.

Akibat perbuatan terdakwa, Saksi sulit bernafas. Namun, kekerasan fisik tersebut masih berlanjut. Dengan menggunakan tangan kanan, terdakwa memukul pundak sebelah kanan dan kiri Saksi sehingga mengalami kesakitan.

“Saksi Yuliana lalu berteriak memanggil Saksi Rohmat Hidayat, Mamat … Tolong saya dipukul,” ujar JPU Indah.

Mendengar teriakan itu maka Rohmat langsung keluar dari garasi menuju teras rumah dan melihat kekerasan fisik yang dilakukan terdakwa terhadap Saksi Yuliana.

Akibat perbuatannya, Saksi Yuliana mengalami pembengkakan dengan batas tidak jelas. Diperkirakan 1,5 x 1 cm pada dahi tengah kanan (di ataa alis kanan) sesuai Visum et Repertum dari Rumah Sakit Harapan Depok Nomor : 197/VeR/RSHD/X/2019 tanggal 05 Oktober 2019 yang dibuat dan ditandatangani oleh dr. Arthur.

Di tempat terpisah, Penasehat Hukum terdakwa dari Firma Hukum Mr. Siregar & Partner, Rozali Siregar saat ditemui wartawan mengatakan bahwa kliennya, Ferdinand Eduard De Fretes adalah benar didakwa oleh JPU atas perbuatan tindak pidana KDRT terhadap Isterinya yang digelar di PN Depok.

Saat disinggung mengenai status penahanan terdakwa, Rozali mengakui bahwa kliennya tidak ditahan sejak di Kepolisian maupun di Kejaksaan. Menunjuk, terdakwa bersikap koperatif dan tidak pernah bolong dalam wajib lapor saat di Kepolisian maupun di Kejaksaan.

“Dikarenakan terdakwa adalah WNA asal Belanda dan keluarganya juga pada di Belanda, maka penjamin terdakwa disini dalam hal penahanan adalah kami selaku Penasehat Hukumnya,” tegasnya.

Ia menambahkan, saat ini sedang mengajukan status penahanan kepada Majelis Hakim menjadi tahanan kota.

“Kami sedang memohon kepada Majelis Hakim agar status penahanan terdakwa menjadi tahanan kota. Dikarenakan, saat ini sedang pandemi Covid-19, terdakwa juga sudah berusia lanjut berumur 77 tahun dan memiliki riwayat penyakit TBC,” katanya.

Rozali juga memaparkan, dalam hal ini pihaknya akan mengambil langkah-langkah konkret untuk membela terdakwa nanti di persidangan.

“Kami, Penasehat Hukum terdakwa akan menghadirkan saksi meringankan serta saksi ahli. Sebab, perbuatan kekerasan fisik tersebut sebenarnya tidak ada. Yang ada disini lebih mengarah ke tindak kriminalisasi kepada terdakwa,” imbuhnya. (JIMMY)