Disurvei, Politik Gagasan dan Kepatuhan Protokol Kesehatan Kampanye Idris-Imam Lebih Unggul

0

Depok – Democracy And Electoral Empowerment Patnership (DEEP) Kota Depok melakukan survei terkait Program Unggulan Pasangan Calon dan Protokol Kesehatan dalam Kampanye Pasangan Calon yang berkontestasi pada Pilkada Kota Depok tahun 2020.

Dari hasil survei tersebut, program unggulan pasangan calon wali-wakil wali kota Depok, Mohammad Idris-Imam Budi Hartono mengungguli program dari pasangan calon Pradi Supriatna-Afifah Alia.

“Mengingat program unggulan bukan hanya persoalan administratif. Akan tetapi jauh dari itu visi misi yang tercermin menjadi program unggulan paslon adalah semangat pasangan calon dalam membangun Kota Depok, maka dari itu sangatlah penting bahwa program unggulan paslon disampaikan secara massif sehingga masyarakat Kota Depok lebih memahami cita-cita pasangan calon dalam membangun Kota Depok,” ujar Fajri Syahiddinillah, Direktur DEEP Kota Depok dalam releasenya, Senin (16/11).

Lebih jauh Ia menjelaskan, dalam aspek penyampaian program unggulan secara massif, pasangan calon Mohammad Idris dan Imam Budi Hartono lebih massif menyampaikan program unggulannya dibandingkan dengan pasangan calon Pradi Supriatna dan Afifah Alia.

“Dengan angka 45.7% diagram diatas responden menyatakan bahwa pasangan calon Mohammad Idris dan Imam Budi Hartono menyampaikan program unggulan secara massif. Sedangakan 43.9% reponden menyatakan bahwa pasangana calon Pradi Supriatna dan Afifah Alia menyampaikan program unggulan secara massif. Kemudian sebanyak 10,4% responden menayatakan bahwa kedua pasangan calon sama-sama tidak menyampaikan program unggulan secara massif,” paparnya.

Tak hanya itu, sambungnya, ketika ditanya terkait paslon manakah yang program unggulannya paling relevan, responden menjawab Idris-Imam.

“Dalam aspek program unggulan yang paling relevan, program unggulan pasangan Mohammad
Idris dan Imam Budi Hartono sedikit lebih revelan, dari pada program unggulan pasangan Pradi
Supriatna dan Afifah Alia. Berdasarkan diagram diatas, 47.3% responden menyatakan program unggulan Pasangan Calon Mohammad Idris dan Imam Budi Hartono paling relevan,” jelasnya.

Sedangkan, kata dia, 43.2% responden menyatakan program unggulan Pasangan Calon, Pradi Supriatna dan Afifah Alia paling relevan dan angka 9,6% responden menyatakan tidak tahu mengenai program unggulan paling relevan.

Selain itu, hasil survei juga menunjukkan pasangan calon Idris-Imam unggul dalam menerapkan protokol kesehatan selama pelaksanaan kampanye.

“Pasangan Mohammad Idris dan Imam Budi Hartono, dalam diagram diatas 45,3% responden menyatakan bahwa pasangan calon mengedepankan protocol kesehatan dalam berkampanye. Sedangkan 39,7% responden menyatakan, pasangan Pradi Supriatna dan Afifah Alia mengedepankan protokol kesehatan dalam berkampanye,” ungkapnya.

Namun ketika ditanya seandainya pilkada digelar hari ini siapakah yang anda pilih, responden menjawabnya Pradi-Afifah.

Fajri mengatakan, pelakasanaan pilkada ditengah pandemi Covid 19 memiliki tantangan tersendiri yakni terkait ancaman penyebaran Covid 19. Maka dari itu penggunaan protocol kesehatan dalam setiap tahapan pilkada tidak bisa ditawar-tawar. Apabila pelaksanaan pilkada yang tidak dibarengi dengan penggunaan alat pelin dung diri, dikhawatirkan rentan jatuhnya korban akibat Covid 19, bahkan dapat memunculkan kalaster baru penyebaran Covid 19 yakni klaster pilkada.

Dikatakannya, dalam tahapan kampanye pasangan calon yang berkontestasi dalam Pilkada Kota Depok tahun 2020 berlomba-lomba menarik simpati masyarakat dengan program unggulannya yang kemudian dengan harapan simpati masyarakat dibalas dengan suara pemilih di TPS.

Dalam metode kampanye pasangan calon yang berkontestasi dalam Pilkada Kota Depok masih sering menggunakan metode bertemu langsung kepada masyarakat.

“Bahwa masih ada pasangan calon yang dalam berkampanye tidak mengedepankan protokol kesehatan. Dengan 9,9% responden menyatakan tidak ada dari kedua pasangan calon mengedepankan protokol kesehatan dalam berkampanye, dan 5 % responden menyatakan tidak tahu mengenai pasangan calon mengedepankan protokol kesehatan dalam berkampanye,” tuturnya.

Fajri pun mengungkapkan bahwa metode pengambilan data dalam studi ini adalah melalui survei dengan enam buah pertanyaan sebagai instrumen pengambilan datanya dan melibatkan 2.684 responden yang berasal dari 11 kecamatan.

“Pertanyaan survei dibuat dengan google form dan disebar melalui media sosial dan jaringan WhatsApp group yang menjadi simpul sosial Kota Depok. Dengan rentang waktu 24 Oktober – 4 November 2020. Adapun responden dalam studi ini adalah masyarakat Kota Depok secara random yang berdomisili dan tersebar di 11 kecamatan se-Kota Depok,” pungkasnya. (DOT)