Divonis Hakim Lebih Ringan, Terdakwa Guru Cabul Nyatakan Banding

0

Depok – Waliarahman, guru honorer yang mengajar pelajaran Bahasa Inggris di salah satu SDN unggulan di Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Depok. Terdakwa divonis Majelis Hakim lebih ringan dari tuntutan JPU dan langsung menyatakan banding di ruang sidang.

JPU Andi Andika sebelumnya menuntut terdakwa berupa pidana penjara selama 14 Tahun. JPU menyatakan bahwa terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur.

Dalam sidang pembacaan putusan Majelis Hakim yang dipimpin Sri Rejeki Marsinta dengan anggota Nanang Herjunanto dan Darmo Wibowo yang berlangsung di ruang sidang cakra PN Depok menyatakan terdakwa Waliarahman terbukti bersalah melanggar tindak pidana dalam Pasal 82 Ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 atas perubahan UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP.

“Waliarahman terbukti bersalah melakukan perbuatan cabul anak di bawah umur. Menjatuhkan putusan terhadap terdakwa oleh karena itu berupa pidana penjara selama 12 Tahun,” kata Sri Rejeki dalam pembacaan sidang putusan, Senin (7/1/2019) di PN Depok.

Sebelum menjatuhkan putusan, Sri Rejeki menyebutkan, hal-hal yang memberatkan dan hal-hal yang meringankan bagi terdakwa.

“Hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa menimbulkan trauma bagi Anak korban beserta keluarganya. Hal yang meringankan, selama bersidang terdakwa yang merupakan tenaga pendidik bersikap sopan dalam persidangan,” tutur Sri Rejeki.

Terdakwa meskipun divonis Majelis Hakim lebih ringan yakni berupa pidana penjara selama 12 Tahun dari Tuntutan JPU selama 14 Tahun penjara di dalam ruang sidang langsung menyatakan banding dan hal itu ditegaskan oleh Penasehat Hukum terdakwa. Sementara JPU yang digantikan Riza Dona di dalam ruang sidang menyatakan pikir-pikir.

Perlu diketahui, Waliarahman saat berstatus Tersangka di hadapan Penyidik Unit PPA Polresta Depok, Komnas Perlindungan Anak dan KPAI mengakui perbuatannya telah mencabuli 13 Siswa anak didiknya yang dilakukannya lebih dari satu kali ke beberapa korbannya sejak Tahun 2016 hingga pertengahan Juni 2018.

Bahkan, Waliarahman sempat berpesan kepada korbannya agar memberitahukan kepada Orang Tua tentang kekerasan seksual yang menimpanya.

“Ketika kamu jadi korban kekerasan seksual seperti saya, jangan merasa malu atau merasa takut. Segera sampaikan ke Orangtua. Ditakutkan, suatu saat kalian dapat menjadi pelakunya,” kata Waliarahman, Jumat (8/6/2018).

Akan tetapi, dalam proses persidangan, Waliarahman membantah kesaksian sejumlah korban yang dihadirkan JPU. Hal itu disampaikan JPU Andi Andika dalam persidangan sebelumnya dalam agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi.

Andika mengungkapkan, ada beberapa Saksi Anak Korban yang dalam keterangannya dibantah oleh terdakwa yang dinyatakan tidak benar. (jim)