DPAPMK Gelar Workshop Pembentukan Sarana Ibadah Ramah Anak

0

Depok – Ketua TP PKK Kota Depok, Elly Farida bersama Dinas Perlindungan Anak Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (DPAPMK) Memberikan arahan dalam rangka Deklarasi Sarana Ibadah Ramah Anak pada kegiatan workshop pembentukan sarana ibadah ramah anak Tahun 2019 di Aula Teratai Balaikota Depok (22/4)

Latar belakang Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Depok Layak anak dan mewujudkan Kota Depok Ramah Anak,demikian dikatakan Ketua PKK Depok yang akrab disapa Bunda Elly kepada Wartawan usai Deklarasi.

Menurutnya, sarana ibadah menjadi satu hal yang penting dipahami oleh seluruh tokoh masyarakat perwakilan dari semua agama untuk memahami betapa sarana ibadah ini menjadi satu pusat pemberdayaan dan menjadikan hal yang efektif bagi anak-anak untuk mengenal siapa Tuhannya. Kemudian mereka juga menjadikan satu suasana yang kondusif hingga anak memahami untuk bisa melaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan oleh semua tokoh-tokoh agama hadir pada workshop, mereka bisa memberikan suatu kenyamanan , keamanan sebagaimana tadi sudah disepakati, terkait Rumah Ibadah yang Ramah Anak berupa kesepakatan sebuah simbol yang disebutkan dengan Serasi.

Serasi itu adalah Santun, Empati, Ramah, Aman , Sehat dan Indah.

“Ini adalah sebagaimana yang kita pahami kebutuhan ini yang kedepannya anak tidak lagi diusir dari masjid atau dari tempat ibadah yang lain dan bagaimana lebih kondusif untuk mendukung kegiatan bagi tumbuh kembang nya anak-anak yang taat kepada Tuhan kemudian mereka juga memahami fungsi dari rumah – rumah ibadah tersebut.”papar Bunda Elly.

Lebih lanjut Ia menjelaskan, Kriteria dari Rumah Ibadah Layak Anak adalah seperti yang kita pahami dari pengertian Serasi yaitu anak-anak dan orang tua memiliki suatu kesepakatan, mereka memberikan ruang, hingga tetap hormat, santun dan memberikan sebuah nilai empati. Terjalinnya suatu komunikasi yang baik.

Umpamanya pernah terjadi ribut karena ada seorang kakek yang merasa terganggu karena anak-anak masuk dengan keramaian.

Dengan contoh ini diharapkan juga dapat disosialisasikan dengan orang tua atau kepada pengurus masjid atau pengurus sarana ibadah lainnya, kita sudah melakukan satu kesepakatan. Ujarnya.

Kemudian Ramah atau suasana aman mereka juga terpenuhi. Mungkin kedepan untuk ruang anak itu seperti apa sebagaimana standarisasi yang sudah dilakukan Rumah Ibadah Ramah Anak, kemudian satu hal yang sehat lahir batin jdan juga dari sisi keindahan yang tetap terjaga

Membayangkan dimasa – masa Rasulullah menjadikan masjid Nabawi menjadi sebuah pemberdayaan, mungkin disanalah bisa kita implementasikan, merasakan sejuk, damai. Kota Depok dengan misi religiusnya inipun perlu terealisir dalam Rumah Ibadah Ramah Anak.

“Dari semua agama dan budaya, semua kebersamaan ini bahwa anak memiliki hak yang sama, seperti halnya dengan RW Ramah Anak , semua juga mendapatkan hal yang sama termasuk dalam hal beribadah.”papar Bunda Elly.

Dikesempatan sama, Yuyun Teja Sumekar , Kasi Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Jabar mengatakan, Dari Program Kola Layak Anak kota Depok Sudah banyak melakukan aksi serta inovasi.

“Dengan Adanya kegiatan workshop ini sangat relevan dengan visi Jawa Barat yaitu terwujud Jawa Barat sebagai juara lahir dan batin. Visi misi pertamanya adalah pemanfaatan masjid, serta adanya peningkatan SDM. Ini sangat relevan dengan pembentukan sarana ibadah yang ramah anak ini,ujarnya.

Menurut Yuyun, Rumah Ibadah Ramah Anak sudah ada di beberapa daerah dikabupaten Jawa Barat, namun belum dilegalkan artinya belum deklarasi atau belum di SK kan.

Selain sebagai tempat ibadah, masjid itu juga sebagai tempat bermainnya anak artinya masjid itu sebagai pusat edukasi dan kreativitas untuk anak-anak.

Setelah Bandung seminggu yang lalu, Depok mendeklarasikan Rumah Ibadah Ramah Anak.

Namun kita dari propinsi belum ada deklarasi seperti Depok, barangkali kedepannya kita akan mengikuti seperti ini, harap Bu Yuyun.

Sementara, Marni Kasubid Kreativitas Anak dan Budaya Kemen PPPA RI, beharap semua rumah ibadah baik itu Islam dan agama yang lainnya bisa dapat lebih ramah terhadap anak.karena kenyataan yang kita temui dilapangan, selama ini ketika anak datang kerumah ibadah, maka pengurusnya kurang ramah bahkan banyak yang menolak.

“Itu yang ingin kami putuskan, kami ingin bahwa anak-anak yang meneruskan estafet perjuangan Indonesia dimasa kedepan menjadi anak yang berakhlakBagaimana dia mau berakhlak,tentunya awalnya adalah dari rumah ibadah”, katanya.

Dia berharapan seluruh rumah ibadah Indonesia nanti menjadi Rumah Ibadah yang Ramah Anak. (Dris)