Generasi Muda Lampung Gelar Diskusi Tolak Radikalisme

0
Ist: : Diskusi publik DPD mahasiswa Pancasila Bandar Lampung tentang radikalisme di Cafe Dunkin Donuts Kedaton, Bandar Lampung, Juma’t (13/12/2019).

BANDAR LAMPUNG – DPD mahasiswa Pancasila Provinsi Lampung menggelar diskusi publik dengan tema “Generasi Muda Menangkal Radikalisme”, yang diadakan di Cafe Dunkin Donuts Kedaton, Bandar Lampung, Jumat (13/12/2019).

Riliis yang diterima media ini, diskusi dihadiri oleh 55 perwakilan pemuda seantero Bandar Lampung serta sejumlah narasumber. Diantaranya, Sairul Basri (Staf Khusus pada Kanwil Kemenhan RI Provinsi Lampung), Basyarudin Maisir (Sekretaris MUI Provinsi Lampung), Darmawan Purba (Akademisi dari Universitas Lampung), dan Husni Mubarok (Ketua HMI Cabang Bandar Lampung).

Sairul Basri mengatakan, mahasiswa dan seluruh generasi muda adalah pemimpin di masa depan, jadi jangan pernah meninggalkan kearifan lokal Indonesia agar tetap utuh NKRI.

Beberapa penyebab orang dapat menjadi sangat radikal adalah adanya ketidakpuasan individu maupun kelompok terhadap keadaan sosial politik, faktor ekonomi dan ketidak adilan, adanya kelemahan dalam memahami Agama, permainan isu dan media sosial, krisis Wawasan Kebangsaan, serta kehilangan karakter.

“Islam bukan penyebab radikal dan terorisme, namun bisa dimainkan sebagai isu yang memecah belah. Pihak berkepentingan di luar memainkan isu supaya Indonesia tidak stabil dan riuh terus melalui berbagai isu tersebut,” kata Sairul Basri.

Paparan selanjutnya, Basyarudin Maisir mengatakan MUI telah menegaskan bahwa islam wasathiyah adalah paham yang cocok di Indonesia, sebab paham ini mengajarkan agar kita selalu berada ditengah.

“Sistem kenegaraan dalam Islam tidak mengatur bentuk negara. Sementara itu, Indonesia dibentuk atas dasar kesepakatan tokoh pimpinan dan semua agama. Jadi, jika ada orang yang baru datang lalau ingin mengganti Pancasila dengan nilai-nilai mereka maka hal itu tidak diperbolehkan,” terang Maisir.

Senada dengan hal tersebut, Darmawan Purba menerangkan bahwa radikalisme adalah paham ideologi yang menginginkan perubahan mendasar dalam lingkup sosial politik dengan menggunakan kekerasan.

“Para generasi muda dan masyarakat umum jangan terjebak dengan isu agama dan nilai-nilai radikalisme. Tidak ada kecenderungan ke satu agama, namun hal ini terus dihembus-hembuskan. Lingkungan kampus adalah termasuk dalam komunitas yang rentan, banyak terjadi diskusi, dan mahasiswa rentang terpapar nilai-nilai radikalisme,” ujarnya.

Diskusi publik yang dimulai pukul 14.00 WIB, ditutup oleh pernyataan dari Husni Mubarok, SH yang menyampaikan bahwa perlu ditekankan kepada generasi muda agar jangan sampai berkembang sudut pandang yang merongrong negara, melainkan agar lebih dikedepankan sisi positif dari pemanfaatan teknologi terkait. (*)