Hari ke 88, Angka Reproduksi Kasus Covid-19 di Depok Banyak Mengalami Penurunan

0

Depok – Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Kota Depok kembali merilis data tarbaru kasus Covid 19 di Kota Depok. Sebagai informasi terkait angka reproduksi kasus Covid-19 hingga hari ke-88 (25 Mei 2020) telah banyak mengalami penurunan.

“Penurunan ini adalah dampak intervensi program yang dijalankan dalam penanggulangan Covid-19 dan partisipasi warga dalam mendukung kebijakan dan protokol pemerintah”, demikian dikatakan Walikota Depok Muhammad Idris melalui keterangan resminya (28/5).

Meskipun demikian lanjut Idris kita masih harus extra waspada karena Reproduksi Efektif Rt Kota Depok masih >1 (1,39), berdasarkan perhitungan dari data real yang ada pada GTPPC kota Depok, hari ini masih ada penambahan kasus konfirmasi positif sebanyak 3 kasus.

“Penambahan tersebut berasal dari tindaklanjut program rapid test Kota Depok yang ditindaklanjuti dengan Swab di Labkesda dan PCR di Laboratorium RSUI sebanyak 3 orang”ujar Idris.

lebih lanjut dirinya menjelaskan, berkenaan dengan banyaknya informasi terkait kebijakan dalam masa COVID-19, dimohon kepada seluruh elemen untuk mengikuti informasi resmi yang dikeluarkan pemerintah, sehingga tidak menimbulkan kebingungan di tengah warga.

“Saat ini Kota Depok masih dalam masa PSBB, sehingga protokol yang digunakan adalah protokol PSBB”,katanya.

Selanjutnya sebagaimana diinformasikan pada rilis hari Rabu Tanggal 27 Mei 2020, berdasarkan kesepakatan FORKOPIMDA saat ini kota Depok sedang mengajukan perpanjangan PSBB hingga 4 Juni 2020, dan masih menunggu respon kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Segala alternative kebijakan telah kami siapkan, karena perkembangannya sangat dinamis, baik data real perkembangan kasus maupun kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, demikian pula sinergi kebijakan antar daerah di Jabodetabek.

Mohon kepada seluruh elemen untuk memaklumi kondisi ini, demi keamanan dan keselamatan semua. Lebih baik kita berhati-hati dengan analisis dan kebijakan yang matang daripada kita tergesa-gesa tetapi berdampak buruk untuk semua, papar Idris. (dotje)