HATI

0

oleh: Ajeng Wulandari.
Mahasiswi STEI SEBI

Ada sebab dimana hati tertunduk dalam diam.

Bukan karena ia enggan, tetapi karena malu atas rabb-Nya.

Ada sebab dimana hati membuka ruangnya untuk mendengarkan sedikit bahagia yang dirasa tubuh.

Terkadang ia tertunduk ragu karena kehadirannya membuat para manusia bimbang.

Karena pada hakikatnya ia begitu halus.
Hanya dapat dirasa, disentuh pun hanya angan.

Hati memang selalu saja begitu, berbolak balik tanpa diminta.

Aku Pernah merasa bersalah pada rabbku.

Menaruh hati pada salah satu hambanya yang jauh dari pelupak mata.

Aku menaruh rasa. ya! aku menyukainya.

Bagaimana tidak?

Bahkan setiap kali langkah kakiku terhenti,

Hanya untuk sekedar memastikan dia atau bukan.

Hatiku pernah, menyimpan harap pada sepersekian detik,

Hanya untuk melihat kirana dalam tatapannya.

tetapi lagi- lagi itu hanya angan.

Sialnya, aku lupa.

Lupa tentang bagaimana cara takdir bekerja. Nyatanya, aku tidak bisa mempersalahkan hati.

Aku sadar!
Menaruh hati pada dia yang belum tentu selalu ada, Adalah fata morgana semata.

Harusnya, Malu kepada sang maha rahman yang dekat sedekat urat nadi .

Seharusnya memang harus benar- benar dijaga, karena pada hakikatnya ia begitu rapuh.

Hingga terkadang, aku sering kali marah pada hidup.

Merasa semesta tak adil.

Menguji sabarku berulang kali.

Menuntut hatiku bahagia setiap kali.

Tetapi lagi- lagi aku lupa, akan semua sekenario yang telah dibuat penciptaku mengenai hati.

Maka aku hanya berharap jaga baik- baik hatiku ,hatimu juga brangkali agar tidak jatuh merengkuh cinta-Nya.