Hubungan Pasar Tenaga Kerja dan Pengangguran di Masa Pandemik

0

Oleh : Arfidava Ryan Gigs Rais
Mahasiswi STEI SEBI Semester 4 prodi Akuntansi Syariah.

Pasar tenaga kerja dapat diartikan sebagai suatu pasar yang mempertemukan penjual dan pembeli tenaga kerja. Sebagai penjual tenaga kerja di dalam pasar ini adalah para pencari kerja (Pemilik Tenaga Kerja), sedangkan sebagai pembelinya adalah orang-orang atau lembaga yang memerlukan tenaga kerja.

Sebagai contoh seperti keadaan sekarang ini bahwa telah terjadi penurunan pasar tenaga kerja yang di karenakan adanya pandemik ini. Dan di ikuti oleh penurunan produksi barang dan pembatasan terhadap perusahaan penyediaan layanan jasa, yang mengakibatkan para perusahaan harus memPHK kan para karyawannya karena tidak sanggup untuk mambayarnya.

Mengutip dari perkataan Rachmad Risqy Kurniawan, SEI, MM selaku Dosen mata kuliah Ekonomi Makro Islam STEI SEBI, mengatakan bahwa “Apa kaitannya pasar tenaga kerja dengan pasar modal, pasar barang dan jasa, pasar uang dan pendapatan nasional suatu negara”. Ini menyatakan bahwa memang benar semua ini memiliki hubungan satu sama lain, dari keadaan pandemik sekarang ini menunjukan telah terjadi penurunan terhadap pasar tenaga kerja dan Ini mengakibatkan peningkatan terhadap tingkat pengangguran di Indonesia, kita ketahui juga bahwa di perkirakan tingkat pengangguran pada tahun 2020 mencapai 8,1% hingga 9,1% dan angka pengangguran naik 4 hingga 5,5 juta orang (menurut Bapenas).

Ini terjadi karena keadaan perekonomian saat ini yang lagi tidak baik dikarenakan efek Pandemik ini, dengan adanya kebijakan PSBB yaitu pembatasan sosial berskala besar, membuat para pelaku ekonomi terhenti, serta perusahaan tidak dapat memproduksi barang-barang, dan di ikutin dengan penurunan konsumsi masyarakatnya, ini memberikan efek domino terhadap semua sektor perusahaan tidak mendapatkan pemasukan, dikarenakan produksi berhenti serta konsumen menurun, dan akhirnya membuat banyak orang yang pengangguran serta mereka-mereka tidak dapat memenuhi kebutuhannya dengan baik, akibatnya akan ada kesenjangan sosial di masyarakat kebawah.

Jadi apa yang harus di lakukan pemerintah untuk mengurangi pengangguran, salah satu langkah yang di buat pemerintah untuk para pelaku ekonomi agar tidak memPHK kan karyawannya, Beberapa alternatif tersebut di antaranya seperti pengurangan jam kerja dan hari kerja, pengurangan shift dan lembur, hingga pemotongan gaji, dan penundaan pembayaran tunjangan dan insentif. Serta pemerintah juga sudah menganggarkan dana sebesar 2 Triliun untuk pemberian insentif untuk para UMKM yang bisa mambantu memperbaiki perekonomian serta bisa menambahkan lapangan pekerjaan tentunya.

Dan pemerintah harus memprioritaskan para pekerja dalam negeri dahulu, dari pada tenaga kerja asing. Pemerintah harus lebih percaya oleh SDM sendiri dari pada SDM asing dan ini juga bisa menjadi cara untuk meningkatkan laju pertumbuhan pasar tenaga kerja itu sendiri. Bagaimana untuk sektor investansi pemerintah juga harus mengeluarkan stimulus moneter yang di terbitkan oleh Bank Indonesia dengan menurunkan tingkat bunga acuan dan pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM).

Penurunan tingkat bunga acuan ini diharapkan akan diikuti dengan penurunan tingkat bunga pasar sehingga dapat mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi. Serta Pemerintah juga menurunkan tarif pajak penghasilan terhadap perusahaan sebagai bentuk untuk membangkitkan perekonomian di Indonesia di tengah pandemik sekarang.

Mengingat risiko kerusakan jangka panjang dari prospek pasar tenaga kerja dan terhadap kesejahteraan mereka secara keseluruhan, pemerintah perlu memberikan solusi komprehensif, termasuk dukungan bagi pendidikan dan pengembangan keterampilan yang mencakup keterampilan digital dan pembelajaran daring, pembelajaran berbasis kerja, kewirausahaan, perlindungan sosial serta meningkatkan hak dan kondisi di tempat kerja bagi kaum muda.

Penerapan kebijakan ketenagakerjaan yang terarah serta dikombinasikan dengan kebijakan ekonomi makro yang mendukung, akan diperlukan untuk mencegah peningkatan dari pengangguran. Krisis ini akan memiliki konsekuensi jangka panjang kecuali jika intervensi kebijakan yang tepat diterapkan di Indonesia tentunya, khususnya mereka yang paling rentan selama krisis ekonomi yang parah.