Kaidah Al Umuru Bi Maqaashidihaa

0

Al Umuru Bi Maqaashidihaa bermakna “Segala Sesuatu Didasarkan Pada Niatnya”. Kaidah ini didasarkan pada hadits Rasulullah saw yang menyatakan bahwa,
“ Innamal A’malu bin Niyaat “ Segala amal perbuatan tergantung niatnya.

Kaidah ini menganjurkan bahwa ketika menilai keabsahan dan akibat hukum suatu perbuatan, niat untuk melakukan perbuatan tersebut harus diperhitungkan. Seperti misalnya, ketika seseorang menemukan barang orang lain tercecer dijalan dan mengambilnya, yang kemudian barang tersebut hilang ataupun rusak ditangannya, maka kewajiban mengganti barang tersebut tergantung pada niat dari mengambilnya.

Jika niatnya untuk dikembalikan kepada yang punya dan supaya orang lain tau, maka ia dianggap amanah dan ia tidak diharuskan untuk membayar ganti rugi. Namun, jika niatnya adalah untk memiliki barang tersebut, maka dia diharuskan membayar ganti rugi kepada pemilik.

Contoh diatas menunjukkan bahwa karena niat, status orang yang menemukan barang dipinggir jalan tadi berubah dari orang yang dipercaya (amanah) menjadi pencuri.

Ulama fiqh telah menetapkan banyak transaksi seperti itu yang tidak sah. Dimana tujuannya tidak konsisten dengan dengan niat melakukan transaksi itu. Sehingga, mereka telah menyatakan bahwa penjualan buah anggur kepada orang yang mengekstrak anggur menjadi minuman yang memabukkan tidak sah, sebab motivasi membelinya tidak diperbolehkan.

Begitu juga dengan suatu akad nikah yang ditujukan untuk membantu pernikahan kembali 2 orang yang bercerai adalah tidak sah, sebab pihak-pihak yang terlibat dalam akad ini tidak berniat untuk hidup bersama selamanya dari pernikahan ini. Perlu diketahui bahwa Allah telah menetapkan tujuan pernikahan adalah untuk kehidupan bersama selamanya.

Tidak ada pertentangan diantara ulama fiqh tentang konsistensi niat antara pihak-pihak yang melakukan akad dengan niat Allah swt. Jika niat pihak yang melakukan akad tidak selaras dengan niat Allah swt, maka akadnya menjadi tidak sah. Alasannya, karena Allah swt memiliki maksud dan tujuan tertentu dari setiap akad atau tindakan. Jika pihak yang melakukan akad memiliki niat yang sama dengan Allah swt maka akad tersebut sah.

Oleh : Salsabila Khairunnisa.

Prof. Dr. Muhammad Tahir Mansoori. 2010. Kaidah-kaidah Fiqih keuangan dan transaksi bisnis. Bogor: Ulil Albab Institute