Kenali, 10 Risiko yang Dihadapi Bank Syariah!

0

Oleh : Ahmad Tantowi Jauhari
Mahasiswa STEI SEBI

Semua aktivitas bisnis tentunya tidak akan pernah terlepas dari risiko yang dapat menghambat aktivitas bisnis termasuk juga dalam aktivitas usaha perbankan syariah. Kegiatan yang dilaksanakan bank syariah dalam memitigasi risiko harus sejalan dengan prinsip syariah namun pada kegiatan operasional dan fungsional bank syariah dituntut untuk mengintegrasi sehingga terbentuk sistem yang akurat dan komprehensif.

Bank syariah adalah badan usaha penyambung dana yang memiliki berbagai jenis risiko kerugian akibat adanya peristiwa tertentu. Risiko pada bank merupakan suatu kejadian potensial, yang dapat diestimasikan maupun yang tidak dapat diestimasikan sehingga dapat berdampak negative terhadap keberlangsungan usaha bank syariah.

Industri perbankan syariah di masa yang akan datang terus akan bergantung pada baik atau tidaknya dalam mengikuti perubahan keuangan internasional. Globalisasi dan revolusi terhadap teknologi informasi menjadi tantangan bagi perbankan syariah dalam dunia bukan hanya lingkup nasional. Praktisnya keuangan syariah menjadi lebih masif, dinamis, dan inovatif.

Guna meminimalkan risiko yang ditakutkan dapat menciptakan kerugian pada bank syariah, maka bank syariah diwajibkan membuat dan melaksanakan manajemen risiko. Manajemen risiko adalah semua metodologi dan prosedur agar dapat mengidentifikasi, menghitung, memonitor, dan mengendalikan yang timbul dari segala aktivitas usaha bank syariah.

Berikut 10 jenis risiko pada bank syariah, yaitu :

Risiko Kredit, adalah suatu risiko keuangan yang dikarenakan tidak mampunya dari nasabah atas kewajiban cicilan utangnya baik utang pokok maupun margin ataupun keduanya.

Risiko Pasar, adalah risiko yang muncul akibat value suatu investasi yang turun disebabkan oleh pergerakan pada berbagai faktor pasar.

Risiko Likuiditas, yaitu risiko yang timbul dengan penyebab tidak mampunya bank dalam memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber dana siarus kas atau asset likuid.

Risiko Operasional, yaitu risiko kerugian yang diakibatkan oleh proses internal yang kurang memadai, kegagalan system dan kesalahan manusia serta kejadian eksternal lainnya.

Risiko Hukum, yaitu risiko akibat tuntutan hukum atau kelemahan aspek yuridis.

Risiko Reputasi, yaitu risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan nasabah terhadap bank.

Risiko Stratejik, yaitu risiko akibat ketidaktepatan dalam pengembalian atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik.

Risiko Imbal Hasil, yaitu risiko perubahan tingkat imbal hasil yang dibayarkan bank kepada nasabah.

Risiko Kepatuhan, yaitu risiko akibat bank tidak peraturan perundang-undangan dan prinsip syariah yang berlaku.

Risiko Investasi, yaitu risiko akibat bank ikut menanggung kerugian usaha nasabah yang dibiayai dalam pembiayaan bagi hasil.

Agar dapat mengatasi beberapa risiko tersebut bank diharuskan melaksanakan manajemen risiko secara efisien, yang dalam pelaksanaan manajemen risiko BUS tersebut dilaksanakan secara individual maupun konsolidasi dengan perusahaan anak.

Pelaksanaan manajemen risiko tersebut minimal mencakup pengawasan yang masif dan aktif Dewan Komisaris, Direksi, dan Dewan Pengawas Syariah, kecukupan kebijakan, prosedur dan penerapan limit manajemen risiko, dan system pengendalian internal yang menyeluruh. Dimana cakupan penerapan manajemen risiko ini disesuaikan dengan tujuan, kebijakan usaha, ukuran, kompleksitas usaha serta kemampuan bank.

Tujuan kebijakan manajemen risiko adalah mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan jalannya kegiatan usaha bank. Dengan hal tersebut, manajemen risiko berfungsi sebagai filter dan ataupun sebagai alarm dini (early warning system) terhadap kegiatan) terhadap aktivitas usaha bank.

Manajemen risiko pada bank syariah memiliki karakter yang tidak sama dengan bank konvensional, hal ini dikarenakan terdapat beberapa jenis risiko yang unik dan khas melekat hanya pada bank yang beroperasi dengan prinsip syariah. Sederhananya, perbedaan antara bank Islam dan bank konvensional tidak pada bagaimana cara menghitung seberapa yang didapat, akan tetapi pada apa yang dinilai.

Pelaksanaan manajemen risiko dapat menggambarkan kepada pengelola bank tentang estimasi kerugian bank di waktu yang akan datang, meningkatkan proses pengambilan keputusan yang tersistematis dari ketersediaan data, yang digunakan untuk dasar penilaian yang lebih tepat dan akurat mengenai aktivitas dan kinerja bank. Oleh karena itu, manajemen risiko bank merupakan salah satu hal yang harus diutamakan dan harus dianggap serius dalam menjalankan usaha bank syariah.