Kisah di Balik Keberhasilan Tim Kopassus Meraih Juara di China

0
Tim Kopassus (pertama dari kanan). Foto: istimewa.

JAKARTA – Sebuah keberhasilan hanya bisa diraih melalui perjuangan dan kerja keras. Kalimat tersebut seakan menjadi pedoman bagi tim Free Fall Persatuan Terjun Payung Angkatan Darat (PTPAD), yang berhasil menorehkan prestasi membanggakan di China, belum lama ini.

Dengan membawa nama Indonesia, tim yang berisikan personel Kopassus ini berhasil menaiki podium sebagai juara ke tiga pada ajang ‘Asiania Indoor Skydiving Championship 2018’ yang berlangsung di Jihua Park, Chongqing, China, 18 hingga 22 September 2018.

Menurut Kepala Penerangan (Kapen) Kopassus Letkol Czi Denden Sumarlin, keberhasilan yang diperoleh tersebut sangat membanggakan. Sebab, kata dia, hal itu merupakan kali pertama tim PTPAD mengikuti kejuaraan skydiving di dalam ruangan.

“Perjuangan yang dilakukan oleh tim PTPAD pada kejuaraan tersebut, sangatlah berat. Pasalnya, negara peserta yang menjadi pesaing tim kita memiliki skill dan fasilitas latihan yang sangat mumpuni,” ujar Kapen dalam kerengan tertulis Minggu (23/9/2018).

Selain itu, kata dia, persiapan yang dilakukan oleh tim Kopassus mengikuti kejuaraan ‘Asiania Indoor Skydiving Championship’ sangat singkat. Mereka berlatih hanya dua minggu di fasilitas latihan Wind Tunnel Pusdiklatpassus.

Disebutkannya, dengan ketekunan, kesabaran, kedisiplinan, latihan keras dan dukungan moril, serta materil yang diberikan pejabat Kopassus hingga Mabes TNI AD, tim Kopassus bisa memperoleh prestasi membanggakan.

“Kita berhasil meraih Juara III dalam kategori FS 2 Way dan FS 4 Way dalam kejuaraan yang diikuti 16 negara Asia dan 4 negara dari Eropa,” jelasnya.

Menurutnya, Wind Tunnel merupakan kategori kejuaraan yang membutuhkan perhitungan matang. Seorang peterjun harus memiliki fokus dan konsentrasi yang tinggi untuk dapat melaksanakan hal tersebut.

Jika salah melakukan perhitungan, kata dia, dapat menyebabkan kesalahan fatal, lantaran kecepatan angin yang memiliki sensitivitas besar dapat menyebabkan formasi berantakan.

“Ini (wind tunnel) sedang berkembang pesat, seiring dengan perkembangan teknologi. Namun, biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Dimana kita harus memiliki fasilitas latihan, mulai dari gedung hingga peralatan yang mumpuni,” pungkasnya. (Boy)