Longsor Jalan Benda Kota Depok, Diduga Warga Akibat Pekerjaan Saluran Air Dikerjakan Asal Jadi

0

DEPOK – Longsor yang terjadi di Jalan Benda RT.03/RW.01 Kelurahan Tugu, Cimanggis, Kota Depok, diduga warga setempat akibat pekerjaan saluran air yang sedang berlangsung, dikerjakan asal jadi oleh pihak kontraktor sebagai pelaksana kegiatan sehingga membahayakan keselamatan warga serta kerugian materi.

Pemilik warung Darman (48) yang menjadi korban longsor mengatakan, saat kejadian dirinya sedang melayani pelanggannya yang sedang ngopi sembari berteduh di warungnya. Menurutnya, longsor awalnya terjadi di Kolam Renang Tirta Sanden yang tepat berada di bagian belakang warungnya.

“Kejadian longsor sekitar jam 15.30 wib terdengar suara retakan dari belakang kolam renang kemudian langsung longsor. Saat itu ada saya sama empat pelanggan di dalam warung. Kami semua sempat jatuh dan untungnya kami bisa naik lagi. Akibatnya kami mengalami luka di bagian kaki dan badan. Saya juga enggak sempat menyelamatkan satupun barang dagangan,” kata Darman, Minggu (11/11/2018).

Kedalaman galian, lanjut Darman, sudah mencapai lutut orang dewasa dan pekerjaan terhenti depan ruko tanpa ada kelanjutannya lagi ke Jalan Nusantara yang kontur jalannya berkelok turun yang mengakibatkan, aliran menjadi terhenti tertahan dan menumpuk di galian saluran air yang sedang dibuat tersebut sehingga mempengaruhi tanah di bagian Kolam Renang Tirta Sanden yang berada di depan ruko.

“Jelas ini pengaruh galian saluran air yang enggak beres diduga dikerjakan asal jadi. Masa dikerjakan cuma sampe depan ruko doang. Akibatnya, air jadi tertahan dan terhenti serta menumpuk disitu. Sebab, air yang ketahan itu bisa mengikis tanah di sekitar ruko sehingga warung kelontong saya jadi amblas imbas dari longsor,” ketusnya.

Darman menyadari bahwa Perumahan Bukit Cengkeh I merupakan kawasan rawan banjir karena tak ada saluran air maka dilakukan pembangunan saluran air yang dikerjakan pihak kontraktor sebagai pemenang lelang Dinas PUPR Kota Depok bidang Sumber Daya Air yang diharapkan dapat mengurangi banjir.

“Emang betul dari dulu daerah ini rawan banjir makanya dibangun saluran air tapi kenapa pekerjaannya pas musim hujan? Bahkan pekerjaannya diduga dikerjakan enggak benar karena kalau pekerjaannya benar, enggak mungkin bisa terjadi longsor seperti sekarang ini,” sindirnya.

Sambil menatap puing reruntuhan dan barang dagangannya yang sudah rusak, Darman menerangkan, belum ada penjelasan terkait longsor dari CV. Maju Karya Putra selaku pelaksana kegiatan. Meskipun tak sepenuhnya musibah, ia berharap, ada ganti rugi atas dirinya serta pemilik ruko dan empat warga pengunjung warungnya yang nyaris menjadi korban longsor.
Selain dirinya, Darman menjelaskan, ada dua bangunan ruko yang ikut ambruk ke belakang Kolam Renang Tirta Sanden, yaitu Counter Pulsa dan satu Ruko kosong yang semuanya longsor dampak pekerjaan saluran air yang sedang berlangsung.

“Saya sih berharap ada ganti rugi dari pelaksana proyek karena longsor ini ada pengaruh dari galian pembagunan saluran air. Soalnya saya tadi enggak sempat menyelamatkan barang dagangan. Baju saja enggak sempat. Dan warung ini saya gunakan juga sebagai tempat tinggal,” ungkapnya.

Hal senada turut dikatakan Watinah (36), kerabat Darman. Ia menuturkan, longsor terjadi saat galian pekerjaan saluran air berlangsung yang baru dikerjakan pada Rabu (7/11/2018). Bertujuan untuk mengurangi banjir yang kerap terjadi di Perumahan Bukit Cengkeh I.

“Kan di depan warung lagi ada galian pembuatan saluran air karena disini emang sering banjir. Enggak hujan saja bisa banjir kalau ada kiriman air dari Bogor. Mungkin longsor dapat terjadi akibat pengaruh dari pekerjaan galian pembuatan saluran air,” tutur Watinah.

Jaka (42) warga RT.03 juga menduga hal yang sama seperti Darman dan Watinah. Ia mengungkapkan, longsor yang terjadi akibat jalur air tertahan sehingga meresap dan mengikis bagian tanah di Kolam Renang Tirta Sanden.

“Beruntung pas kejadian tak ada warga yang berenang. Korban luka berasal dari Darman dan empat pelanggan warungnya yang sedang ngopi sambil berteduh hujan. Lagian gimana enggak longsor kalau airnya ketahan di depan ruko. Harusnya itu kalau mau buat saluran air, jangan setengah-setengah kalau setengah-setenga ya akibatnya jadi kaya begini,” tegasnya.

Tak jauh dari lokasi kejadian didapati bedeng proyek serta papan pekerjaan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bidang Sumber Daya Air Tahun 2018 yang tertulis pekerjaan normalisasi dan penataan Kali Jantung I (Bukit Cengkeh I) sebesar Rp 933.997.100,- dimana pihak pelaksana adalah CV. Maju Karya Putra dan Konsultan Supervisi adalah PT. Nirwana Indo Konsultan. (jim)