MANAJEMEN RISIKO DI TENGAH MELONJAK NYA COVID-19

0
ilustrasi : Ist

oleh : Annisa Hafizhah
Mahasiswi STEI SEBI Depok

Sejak mulainya Virus Corona atau Covid-19 menjadi pandemi, tidak hanya mengakibatkan
terganggunya kesehatan tetapi juga mengganggu sektor ekonomi. Tidak sedikit juga
perusahaan yang akhirnya kehabisan nafas.

Shopee, Grab, Gojek, Traveloka, Tokopedia dan perusahaan yang berplatform digital yang selama ini berdiri dengan kokoh sebagai perusahaan terkemuka pun ikut tersapu dan terpaksa harus memangkas sebagian karyawannya demi bertahan ditengah pandemi. Tetapi banyak juga perusahaan yang mampu mempertahankan eksistensi nya berselancar di atas gelombang Virus Covid-19 ini.

Ditambah saat ini Indonesia mengalami lonjakan kasus positif Covid-19 yang sangat tinggi
sehingga gerakan PPKM Darurat Jawa-Bali atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan
Masyarakat khusus nya di pulau Jawa dan Bali harus dilaksanakan dengan tujuan mengurangi kasus positif Covid-19.

Anggota DPD RI Fahira Idris mendukung langkah Pemerintah melaksanakan PPKM Darurat
di Pulau Jawa dan Bali yang berlangsung mulai tanggal 3 Juli sampai 20 Juli 2021
mendatang. Menurut Fahira Idris, dari sekian banyak beragam istilah yang digunakan
Pemerintah sejak awal pandemi Covid-19, inti dari semua kebijakan pembatasan ini adalah
manajemen risiko. Tujuannya adalah supaya implementasi kebijakan yang efektif, fokus dan dapat meminimalisir berbagai masalah dan dampak dari masalah tersebut.

Selanjutnya dampak dari pembatasan-pembatasan yang dilaksanakan Pemerintah adalah
orang-orang memilih atau dipaksa untuk diam dirumah dan melaksanakan kegiatan mulai
dari bekerja, belajar dan segala sesuatu nya dari rumah. Aplikasi Zoom dan Google Meet
menjadi salah satu perusahaan yang naik daun. Aplikasi komunikasi melejit tinggi menjadi
kebutuhan utama hampir semua orang, terutama untuk yang melakukan work from home atau sekolah dan kuliah jarak jauh.

Menuju kenormalan baru atau biasa dikenal dengan istilal new normal, hampir dari semua
sektor ekonomi dan bisnis dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif dalam menjalankan
kegiatannya. Pergeseran new normal atau kenormalan baru ini bisa mengakibatkan
ketidakpastian perusahaan dalam mencapai target. Dari perspektif manajemen risiko,
pergeseran new normal ini akan menimbulkan risiko baru atau memperbesar dampak yang
ada menjadi sebuah peristiwa.

Selain itu, menuju kenormalan baru ini juga akan menyebabkan lawan asas/paradoks dalam organisasi. Alih-alih desain organisasi yang dituntut gesit, justru manajemen risiko nya bersifat pasif dan terlalu terbebani. Padahal sudah dengan jelas disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Insyirah : Inna ma’al usri yusra (dibalik kesulitan ada kemudahan). Jika diartikan kedalam bahasa manajemen, risiko dapat diartikan bahwa dibalik ancamannya, sesungguhnya selalu terdapat banyak peluang yang dapat dieksplorasi.