Maret 2020, Nilai Tukar Petani Jatim Turun 1,64 Persen

0
Foto : Ilustrasi

Jatim – Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur bulan Maret 2020 turun 1,64 persen dari 103,16 menjadi 101,47. Penurunan NTP ini disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (It) mengalami penurunan, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Dadang Hardiwan mengatakan, pada bulan Maret 2020, empat subsektor pertanian mengalami penurunan NTP dan satu subsektor mengalami kenaikan. Subsektor yang mengalami penurunan NTP terbesar terjadi pada subsektor tanaman pangan sebesar 2,73 persen dari 105,45 menjadi 102,57.

Diikuti subsektor hortikultura sebesar 1,43 persen dari 104,94 menjadi 103,44, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,88 persen dari 98,45 menjadi 97,58, dan subsektor perikanan sebesar 0,77 persen dari 98,27 menjadi 97,51. “Untuk subsektor yang mengalami kenaikan NTP adalah subsektor peternakan sebesar 0,59 persen dari 99,21 menjadi 99,79,” ujar Dadang dalam rilisnya, Jumat (24/4).

Dari lima Provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan NTP pada bulan Maret 2020, Empat provinsi mengalami penurunan NTP sedangkan satu provinsi mengalami kenaikan. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Jawa Timur sebesar 1,64 persen, diikuti Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 1,25 persen, Provinsi Jawa Tengah sebesar 1,14 persen, dan Provinsi Jawa Barat sebesar 0,33 persen. Sedangkan NTP Provinsi Banten mengalami kenaikan sebesar 0,50 persen.

Sedangkan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga merupakan perbandingan antara Indeks Harga yang Diterima oleh Petani (It) dengan Indeks Harga yang dibayar oleh Petani (Ib). Dimana komponen Ib hanya meliputi Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Secara konseptual, NTUP mengukur seberapa cepat indeks harga yang diterima oleh petani dibandingkan dengan indeks harga biaya produksi dan penambahan barang modal.

Pada Maret 2020, NTUP turun sebesar 1,57 persen. Hal ini terjadi karena It turun sebesar 1,44 persen sedangkan indeks BPPBM naik sebesar 0,13 persen. Ada empat subsektor yang mengalami penurunan NTUP, yaitu subsektor tanaman pangan 2,68 persen, subsektor hortikultura 1,42 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat 0,83 persen, dan subsektor perikanan sebesar 0,73 persen. Sementara itu, subsektor peternakan mengalami kenaikan NTUP sebesar 0,73 persen. (YOYOK)