MARGONDA Pahlawan Tanpa Pusara

0

Margonda, pahlawan kemerdekaan namanya diabadikan menjadi ruas jalan utama Kota Depok, adalah pimpinan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI).

Pada 11 Oktober 1945, dua bulan pasca kemerdekaan RI, Margonda bersama pasukan AMRI menyerbu Depok karena wilayah itu tidak mau bergabung dengan Indonesia.

Para pemuda dibawah Komando Margonda mengepung dan berhasil menguasai Depok. Namun tidak lama kemudian sekutu datang dan merebut Depok. Para pejuang mundur menyusun kekuatan. Mereka melakukan serangan balik pada 16 November 1945 dengan sandi perang Serangan Kilat.

Buku ini menggali sosok seorang Margonda, dan juga sepakterjangnya sebagai pahlawan kemerdekaan.

“Saya adalah pasukan laskar pembantu yang berjuang bersama 8 kawan saya menjadi pasukan Margonda. Beliau dikenal sangat pemberani. 6 kawan saya meninggal dalam pertempuran, satunya tertangkap dan dicongkel matanya oleh Belanda dan sekutu,” cerita Asan Bogeg (95), saksi hidup dan juga pelaku sejarah bagaimana peristiwa Gedoran Depok bulan november tahun 1945 yang menewaskan Margonda itu terjadi.

“Saya masih ingat, ketika itu banyak pemuda di Bogor yang ikut Margonda ke Depok untuk mengembalikan Depok kepangkuan ibu pertiwi. Karena pada saat Indonesia merdeka, Depok yang banyak penduduk Belanda, tak mau mengakui kedaulatan RI,” kata Eman Sulaiman (88), seniman dan budayawan Bogor, yang pada waktu peristiwa Gedoran Depok berumur 14 tahun.

“Begitu Indonesia merdeka, Belanda yang lama menjajah Indonesis belum mau mengakui kemerdekaan RI. Sekutu pun mendompleng ingin kembali duduk di bumi pertiwi. Kita bagi tugas, Margonda berjuang di Depok, Muslihat di Bogor. Tujuannya adalah bagaimana kedaulatan RI pasca kemerdekaan tetap terjaga. Namun mereka akhirnya gugur di medan perang,” cerita Rd. H. Rahmadi Wangsaatmadja (90), tokoh veteran pejuang kemerdekaan Bogor, salah satu pemuda yang pergi ke Depok masuk menjadi pasukan Margonda

Baca juga : MARGONDA Pahlawan Tanpa Pusara, Namanya Diabadikan Menjadi Ruas Jalan Utama Kota Depok

Dari hasil investigasi dan juga wawancara dengan para nara sumber yang kreadibel, beruntung saya dapat menemukan jejak Jopiatini (73), anak sematawayang Margonda dari perkawinannya dengan Siti Maimunah. Jopiatini sendiri saat peristiwa Gedoran Depok, usianya baru 5 bulan.

“Tak ada yang saya ingat tentang Bapak… tetapi ibu banyak cerita…” kata Jopiatini terbata… ia terdiam, saya lihat matanya memerah, perlahan ada kristal bening yang turun dari sudut matanya mengalir melintasi pipinya.

Saya tak melanjutkan pertanyaan, lebih baik baca saja buku saya nanti yang Insya Allah pertengahan April sudah launching.

Oleh : Putra Gara