Mengenal 4 Proses Manajemen Risiko Pada Bank Syariah

0

Oleh: Syifa Kharisma Dewi
Mahasiswi STEI SEBI

Bank syariah sebagai lembaga intermediary akan selalu dihadapkan dengan berbagai jenis risiko pada kegiatan usahanya. Risiko merupakan potensi terjadinya kerugian akibat suatu peristiwa tertentu. Dalam dunia perbankan, risko merupakan kejadian potensial, yang dapat diperkirakan (expected) ataupun yang tidak dapat diperkirakan (unexpected) yang memberi dampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan bank sehingga menjadi kendala dalam pencapaian tujuan.

Manajemen risiko merupakan sebuah rangkaian prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, serta membentuk strategi untuk dapat memetakan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan pendekatan manajemen secara komprehensif dan sistematis.

Manajemen risiko merupakan aktivitas yang utama dari suatu bank sebagai lembaga intermediasi yang bertujuan untuk mengoptimalkan trade off antara resiko dan pendapatan, dan membantu merencanakan dan mengembangkan usaha secara tepat, efektif dan efisien.

Dalam menerapkan proses manajemen risiko pada bank syariah, di tahap awal harus secara tepat memahami dan mengenal seluruh risiko, baik yang sudah ada maupun risiko yang kemungkinan akan timbul dari suatu produk atau bisnis yang baru dikeluarkan bank.

Lalu apa saja proses yang harus dilalui bank syariah dalam menerapkan manajemen risiko?

Berikut, 4 proses manajemen risiko pada bank syariah

Identifikasi Risiko
Dalam perbankan syariah, Identifikasi rsiko dilakukan tidak hanya mencakup berbagai risiko yang ada pada bank-bank secara umum. Melainkan meliputi berbagai resiko yang khas, yang hanya pada bank-bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah.

Identifikasi risiko dilaksanakan dengan melakukan analisis terhadap:

Karakteristik risiko yang melekat pada aktivitas fungsional;
Risiko dari produk dan kegiatan usaha.

Penilaian Risiko
Keunikan perbankan syariah dalam penilaian risiko dapat dilihat pada hubungan antara probability dan impact, atau biasa dikenal sebagai qualitative approach. Penilaian risiko dilaksanakan dengan melakukan:

Evaluasi secara berkala terhadap kesesuaian asumsi, sumber data, dan prosedur yang digunakan untuk mengukur risiko

Penyempurnaan terhadap siistem pengukuran resiko apabila terdapat perubahan kegiatan usaha, produk, transaksi dan faktor resiko yang bersifat material

Antisipasi Risiko
Antisipasi risiko dalam perbankan syariah bertujuan untuk:

Preventive.
Dalam hal ini, persetujuan DPS diperlukan oleh perbankan syariah untuk mencegah terjadinya kekeliruan dari suatu proses atau transaksi dari segi syariah.

Detective.
Terdapat dua aspek yang harus diawasi oleh perbankan syariah, yakni aspek dari sisi perbankan oleh Bank Indonesia dan aspek dari sisi syariah oleh DPS.

Recovery
Koreksi atas suatu kesalahan dapat melibatkan Bank Indonesia untuk aspek perbankan dan DSN untuk aspek syariah (Karim, 2013: 258).

Monitoring Risiko

Dalam hal ini, Monitoring pada perbankan syariah tidak hanya meliputi manajemen bank Islam, akan tetapi juga melibatkan Dewan Pengawas Syariah.

Dalam pengembangan ke depan, perbankan syari’ah akan menghadapi tantangan yang tidak ringan dan penuh dengan risiko, sehingga diperlukan pemahaman yang matang mengenai manajemen risiko.

Biodata Singkat
Syifa Kharisma Dewi
Mahasiswi STEI SEBI, Semester 6