Meningkatkan Kepercayaan Diri dengan Public Speaking Dalam Perspektif Islam

0


Oleh Euis Juhrotul Hasanah
Program Studi Hukum Ekonomi Syariah STEI SEBI

Mengenal Public Speaking
Berbicara public speaking tentu tidak akan lepas dari namanya komunikasi, karena public speaking merupakan bagian dari komunikasi. Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita dari dua orang individu atau lebih agar pesan yang diberitakan tersebut bisa dipahami oleh lawan bicara.

Menurut Forsdale (1981), ahli komunikasi dan pendidikan “communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules”. Komunikasi adalah suatu proses dimana suatu sistem dibentuk, dipelihara, dan diubah dengan tujuan bahwa sinyal-sinyal yang dikirimkan dan diterima dilakukan sesuai dengan aturan. Sedangkan Wilillam J. Seller berpendapat bahwa komunikasi merupakan proses simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima dan diberi arti. Dari beberapa pengertian tersebut dapat kita simpulkan komunikasi adalah proses terjadinya pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan.

Manusia sebagai makhluk sosial yang mempunyai ketergantungan satu sama lain serta saling terikat dengan orang lain dilingkungannya, tidak akan terlepas dari komunikasi baik secara verbal maupun nonverbal. Dengan adanya komunikasi kita bisa mengenal diri kita sendiri, mengevaluasi diri, dengan komunikasi kita juga dapat berinteraksi dengan orang lain, mengungkapkan perasaan, bertukar pikiran serta mengembangkan gagasan baru, dan masih banyak lagi. Tanpa kita sadari, kita memerlukan kemampuan public speaking setiap hari, mulai dari berbincang dengan teman hingga berbicara di depan petinggi perusahaan untuk meningkatkan karir dalam dunia kerja.

Setelah kita mengenal komunikasi serta peran komunikasi terhadap kegiatan manusia sebagai makhluk sosial. Kita akan mengetahui apa itu public speaking? Pada dasarnya public speaking adalah bentuk komunikasi didepan banyak orang, yaitu menyampaikan pesan didepan banyak orang dengan maksud pesan yang disampaikan sampai dan dapat dimengerti oleh pendengar.

Manurut ys. Gunadi dalam himpunan istilah komunikasi : public speaking adalah sebuah bentuk komunikasi yang dilakukan secara lisan tentang suatu hal atau topik dihadapan banyak orang. Tujuannya adalah untuk mempengaruhi, mengubah opini, mengajar, mendidik, memberikan penjelasan serta memberikan informasi kepada masyarakat tertentu pada suatu tempat tertentu.

Berbicara didepan umum pada dasarnya sama seperti naik sepeda, mengendarai mobil atau bermain basket yang intinya semakin sering melakukannya, semakin pandai menggunakannya dan semakin asik menggunakannya. Public speaking adalah kemampuan seseorang untuk berbicara didepan umum dengan benar sehingga pesan dapat dengan jelas tersampaikan dan tujuan berbicara bisa langsung didapatkan.

Oleh karena itu kita perlu mengetahui dasar-dasar dari public speaking, yaitu :

Jujur, berbicaralah sesuai fakta yang ada, tidak ngarang-ngarang, karena apabila tidak berbicara jujur maka terjadi kebohongan publik dan akan sulit mendapatkan kepercayaan lagi dari audience. Keterbukaan diri akan menenangkan hati audience dan keterbukaan itu didapatkan dari ketulusan dalam berbicara. Ketulusan muncul ketika kita menjadi diri sendiri dengan fakta, tanpa ada yang ditutupi.

Sikap yang benar, menggunakan bahasa tubuh yang tepat, hal ini akan menambah percaya diri dan dipercaya audience sebagai pendengar. Memberikan senyuman saat mulai berbicara, menatap mata audience sehingga menimbulkan keterikatan.

Tertarik dengan materi pembicaraan, semakin bersemangat menyampaikan materi maka semakin menarik perhatian audience untuk mendengakan dan menyimak. Ketika menyampaikan sesuatu kita harus faham materi yang disampaikan, sehingga akan mengurangi terjadinya kesalahan-kesalahan dalam penyampaiannya.

Terbuka dengan diri sendiri, menerima kritikan dan masukan untuk terus belajar dan memperbaiki penampilan.

Public Speaking ala Rasulullah SAW

Rasulullah SAW merupakan suri tauladan bagi umatnya, beliau termasuk dalam 100 pemimpin terbaik sepanjang zaman. Dari perkataan dan lakunya beliau kita bisa mendapatkan pelajaran bahkan mendapatkan sunnah, karena setiap perilaku dan ucapan Rasul adalah sunnah. Berikut bagaimana kita belajar public speaking dari sosok yang agung, bagaimana Rasulullah SAW dalam public speaking:

Berbicaralah dengan jelas dan mudah dipahami

“Rasulullah SAW berbicara dengan kata-kata yang jelas dan tegas. Orang yang duduk bersamanya akan dapatmenghafal (kata-katanya)”. Diriwayatkan oleh Humaid bin Mas’adah al-Bashriyyi, dari Humaid al-Aswad, dari Usamah bin Zaid, dari Zuhri, dari Urwah, yang bersumber dari Aisyah ra

“Rasulullah SAW, juga suka mengulang-ulang perkataan yang diucapkannya sebanyak tiga kali, agar bisa dipahami”. (diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya, dari Abu Qutaibah-Muslim bin Qutaibah, dari Abdullah bin al-Mutsani, dari Tsumamah, yang bersumber dari Anas bin Malik ra

Jadi, berbicaralah dengan jelas dengan intonasi dan artikulasi yang jelas sehingga apa yang disampaikan dapat difahami, selain itu juga perlu gunakan kata-kata yang mudah pifahami dan dimengerti oleh pendengar.

Menyisipkan sedikit unsur humor

Suatu ketika rasulullah SAW mendatangi seorang nenek yang sudah tua, kemudian nenek itu berkata: “Doakan aku agar aku bisa masuk surga Allah SWT”.Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada nenek tua :“Wahai Ummu Fulan! Sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh orang-orang yang sudah tua.”

Medengar perkataan tersebut sang nenek merasa sedih dan menangis, ia berpikir nenek tua tidak akan masuk surga. Akan tetapi Rasulullah SAW kemudian memeberikan pemahaman kepada nenek tua bahwa kompilasu dia masuk surga, tidak akan masuk surga sebagai orang yang sudah tua, melainkan akan berubah kembali menjadi muda dan berparas cantik.

Kemudian rasulullah SAW membacakan QS Al-Waqiah ayat 35-36 yang berbunyi : “Sesungguhnya kami membuat mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.”

Jadi, dalam menyampaikan atau berbicara di depan umum boleh dilakukan dengan koridor yang sewajarnya, tidak menyinggung orang lain atau menghina ras dan agama.

Berpenampilan menarik

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyenangkan dengan keindahan. Bila seseorang hamba ikut kamu (diundang) kawan-kawannya mintalah dia merapihkan dirinya”. (HR Muslim)

“Datanglah sesorang untuk bertemu Rasulullah SAW dengan rambt acak-acakan dan jenggot yang semraut tak teratur. Lantas Rasul pun memberi isyarat kepada orang tersebut sebagaiolah menyuruhnya untuk merapihkan rambutnya. Lelaki ini lalu berpaling untuk memperbaiki rambutnya, lantas sesaat kemudia datang lagi bertemu Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW mengatakan kepada para mereka : “Apakah berpenampilan yang menarik seperti ini lebih baik dari pada salah seorang diantara kamu menghadap dengan rambut acak-acakan seperti setan?” (HR. Malik)

Berpenampilan menarik, rapih, sopan dan menutup aurat merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim. Dengan penampilan rapih dan menarik membuat orang-orang menjadi suka dan saling menghargai.

Selalu bersemangat

Dari Jabir bi Abdullah meriwayatkan: “Bahwasannya Rasulullah SAW jika sedang berkhutbah, kedua mata beliau memerah, suaranya meninggi, dan marahnya memuncak, sehingga seakan-akan beliau adalah panglima perang yang sedang mebagikan bantuan kepada bala tentaranya” (HR Muslim).

Dalam public speaking kita harus semangat dan penuh enegik agar peserta yang mendengarkan presentasi atau percakapan yang kita sampaikan tidak mengantuk dan merasa bosan.

Ringkas namun penuh makna.

Rasulullah merupakan sosok yang fasih berbicara. Sedikit berbicara, lugas dan jelas namun penuh makna, sangat mudah dimengerti, dan tidak mudah meyinggung perasaan lawan bicaranya.

“Nabi SAW tidak memanjangkan nasihatnya pada hari jumat, beliau hanya memberikan amanah-amanah yang cukup singkat dan ringkas.” (HR. Abu dawud)

Dalam public speaking jika berbicara terlalu panjang dan keluar konteks akan membuat peserta atau yang mendengarkan merasa bosan dan mengantuk, oleh karena itu cukup dengan kata semangat dan penjelasan yang singkat, jelas dan penuh makna.

Ceria dan menatap wajah lawan bicara

“Jangan pernah meremehkan sedikitpun (sehingga enggan melakukan) perbuatan ma’ruf, meskipun hanya menjumpai kawan dengan wajah ceria”. (HR. Muslim)

Abu Hurairah ra. berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak pernah berbicara dengan sesorang melainkan beliau menghadapkan wajahnya pada wajah lawan bicaranya dan tidak akan berpaling sebelum ia selesai bicara”. (HR At-Thabrani)