Nasib Buram Pedagang Di Tengah Pandemic Covid-19

0

Sketsa – Pengaruh covid-19 memberi dampak besar bagi banyak masyarakat, terutama pada pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) atau pedagang kaki lima.

Bapak jaya salah satu nya, dia berjualan es kelapa di jalan raya jampang parung, sudah cukup lama bapak jaya menekuni usaha ini, kurang lebih sudah 7 tahun lama nya. Menjadi penjual es kelapa merupakan pekerjaan utama yang bisa dulakukannya karena dia tidak memiliki latar belakang pendidikan yang mencukupi.

Saat ini dalam kesehariannya, bapak jaya tidak terlalu mengalami kesulitan untuk membiayai kehidupan keluarganya sebab bapak jaya memiliki 3 anak yang semuanya sudah bekerja dan berpenghasilan.

Namun demikian dalam ppengakuannya, pandemic covid menyebabkan penjualan nya turun, sebelumnya setiap hari dia bisa menjual es kelapa sebanyak kurang lebih 20 liter es kelapa, namun sekarang air kelapa 10 liter pun tidak habis terjual.

Factor yang menyebabkan jualannya tidak habis yaitu karena pembeli banyak dari kalangan pelajar smp juga yang menepi dimasjid untuk beribadah, karna lokasi berjualan bapak jaya berada dipelataran depan masjid di samping sekolah mts.

Namun saat ini banyak sekolah yang diliburkan berdampak diarea pelataran pakir yang jadikan lokasi berjulan pun mulai sepi dikarnakan adanya himbawan untuk beribadah di rumah saja.

Dalam pengakuan bapak jaya mengungkapkan, bahwa penjualannya menurun mulai dirasakan dari 3 minggu sebelumnya dan puncaknya dimulai dari tanggal 15 april, berawalan dengan adanya psbb di daerah parung sekitar nya. Namun demikian bapak jaya tetap memaksakan berjualan demi mencukupi kebutuhan sehari hari nya.

Bapak jaya juga memberi pendapat tentang adanya aturan psbb ini, dia mengeluhkan dengan aturan seperti ini.

“ jualan saya sudah mulai kerasa sepi dari 3 minggu lalu, apalagi sekarang ada aturan baru tuh psbb.. yang katanya pembeli gak boleh makan di tempat. Yaaaa sebenernya saya ngerti maksud dari peraturan itu yang kaga laen buat mengurangi tingkat orang berkumpul, tapi kan pembeli saya kebanyakn yang pada minum di tempat, nah kalo ini terus terusan terjadi ya bisa-bisa saya ga ada yang beli, bisa jadi juga bukannya mati karena corona, tapi Karena kelaparan.

Saat ini yang di butuhkan pedagang seperti bapak jaya ini adalah uluran bantuan pemerintah setempat yang sampai saat ini tidak kunjung sampai kepada masyarakat nya.

Juga bagi kalian yang membaca artikel ini ayo gerakan hati kita untuk saling membantu para pedagang-pedagang kaki lima ini dengan cara membeli juga mengonlinekan/ memasarkan kepada media social. Karna dengan rasa kasihan saja tidak cukup untuk mereka.

Muhammad Reynaldi
Mahasiswa STEI SEBI