PANDANGAN ISLAM TERHADAP TIME VALUE OF MONEY

0
Istimewa

Seperti yang sudah kita ketahui bahwasannya time value of money dalam teori ekonomi konvensional di definisakan yaitu A dollar today is worth more than a dollar in the future because a dollar today can be invested to get a return. Pengertian ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa nilai uang yang kita miliki saat ini lebih berharga daripada nilai uang di masa depan, karena ada unsur investasi yang dapat menghasilkan keuntungan.

Pandangan ekonomi konvensional terhadap adanya nilai waktu dari uang dapat membuat investor mempunyai kesempatan menyimpan uang yang diterima sekarang dalam suatu bentuk investasi dan mendapatkan bunga (interest).  Dengan adanya kepastian arus kas, tingkat bunga dapat digunakan untuk menyatakan nilai waktu dari uang.

Tingkat bunga memungkinkan untuk menyesuaikan nilai arus kas yang diterima atau dibayarkan pada waktu tertentu ke suatu waktu yang berbeda. Konsep Time Value of Money atau yang disebut ekonom sebagai positive time preference menyebutkan bahwa nilai komoditi pada saat ini lebih tinggi di banding nilainya di masa depan. Diskonto dalam positif time preference ini biasanya didasarkan pada atau paling tidak berhubungan erat dengan bunga (interest rate). Sehingga bunga berfungsi sebagai alat ukur dalam penentuan nilai waktu modal dan investasi.

Nah setelah kita ketahui penjelasan time value of money dalam teori ekonomi konvensional, sekarang kita akan bahas “Bagaimana Pandangan Islam Terhadap Time Value Of Money”. Dalam Islam tidak dikenal dengan adanya time value of money, yang dikenal adalah economic value of time. Islam memperbolehkan penetapan harga tangguh bayar lebih tinggi dari pada harga tunai.

Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, cicit Rasulullah Saw. adalah orang yang pertama kali menjelaskan diperbolehkannya penetapan harga tangguh yang lebih tinggi itu sama sekali bukan disebabkan time value of money, namun karena semata-mata ditahannya hak penjual barang. Dalam Islam, keuntungan bukan saja keuntungan di dunia, namun yang dicari adalah keuntungan di dunia dan akhirat. Oleh karenanya, pemanfaatan waktu itu bukan saja harus efektif dan efisien namun ia juga harus didasari keimanan.

Keimanan inilah yang akan mendatangkan keuntungan di akhirat. Sebaliknya, keimanan yang tidak mampu mendatangkan keuntungan di dunia, berarti keimanan yang tidak diamalkan, Landasan atau keadaan yang digunakan oleh ekonomi konvensional inilah yang ditolak dalam ekonomi syariah, yaitu keadaan mendapatkan hasil tanpa memperhatikan suatu risiko (alghunmu bi al ghurni) dan memperoleh hasil tanpa mengeluarkan suatu biaya.

Implikasi konsep Time Value of Money adalah adanya bunga. Sedangkan bunga erat kaitannya dengan riba, dan riba adalah haram sert azulm. Dan agama melarangnya. Sehingga dianggap tidak sesuai dengan keadilan di mana “al-qhumu biqhurni” (mendapatkan hasil tanpa mengeluarkan resiko), dan “al-khraj biladhaman” (memperoleh hasil tanpa mengeluarkan biaya).

Berkaitan dengan Pandangan islam terhadap Time Value Of Money, menurut ust. Rachmat Rizqy, SEI, MM salah watu dosen mata kuliah Ekonomi Makro di STEI SEBI Depok dalam kuliah secara daring mengemukakan bahwa Time Value Of Time adalah riba dan penemu riba itu orang yahudi pada abad 18 sebelum Masehi.

Manarul Hidayat, STEI SEBI