PERAN MAQASHID SYARI’AH DALAM MENENTUKAN HAL YANG HALAL DAN HARAM

0

Syariat Islam adalah peraturan hidup yang datang langsung dari Allah dan merupakan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Sebagai pedoman hidup, syariat islam memiliki tujuan utama yang dapat diterima oleh seluruh umat manusia. Tujuan diturunkannya syariat Islam adalah untuk kebaikan seluruh umat manusia. Dalam ruang lingkup ushul fiqh tujuan ini disebut dengan maqashid assyari’ah yaitu maksud dan tujuan diturunkannya syariat Islam.

Secara bahasa, maqashid syariah terdiri dari dua kata yakni, maqashid dan syariah. Maqashid adalah bentuk jamak dari maqshid yang berarti kesengajaan atau tujuan dan syariah berarti jalan menuju sumber air. Jalan menuju sumber air ini dapat pula dikatakan sebagai jalan ke arah sumber pokok kehidupan, tentu dalam hal ini adalah kehidupan manusia itu sendiri. Sedangkan Maqashid Syariah secara istilah adalah tujuan-tujuan syariat Islam yang terkandung dalam setiap aturannya. Tujuan ini dapat ditelusuri dari ayat-ayat Al-quran dan Hadist maupun Sunah Rasulullah sebagai alasan logis bagi rumusan suatu hukum yang berorientasi bagi kemaslahatan manusia. Maslahat disini mengacu terhadap pemeliharan akan lima hal yaitu Ad-Din, An-Nash, Al-Aql, An-Nashl dan Al Maal.

Terkait dengan larangan dan perintah mengenai halal dan haram, permasalahan halal dan haram ini sudah menjadi masalah yang umum bagi kaum muslimin, karena merupakan pembatas antara yang hak dan yang batil. Setiap harinya manusia khususnya umat muslim akan dihadapkan dengan persoalan halal dan haram, hal ini menunjukkan betapa pentingnya untuk mengetahui dan memahami batas antara yang halal dan haram beserta alasannya. Hal ini jika dilihat sekilas  akan dianggap mudah bagi sebagian besar umat muslim, namun dalam kenyataanya akan sangat sulit ketika dihadapkan dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam islam, pemahaman mengenai halal dan haram tidak hanya terbatas pada makanan dan minuman saja, akan tetapi meliputi semua aspek kehidupan baik berupa perbuatan, perkataan, kebiasaan dan sebagainya. Karenanya penting bagi kita selaku umat muslim untuk mempelajari, memahami dan menerapkan pemahaman tentang halal dan haram dalam kesehariannya. Jika halal dan haram mampu dijaga dengan baik maka maqashid syariah pun akan mampu terjaga dengan baik.

Ad-Dhin

Yang pertama dimulai dari Ad-Dhin atau agama. Agama merupakan tingkatan tertinggi dalam maqashid syariah. Dilakukan dengan cara tidak melanggar apa yang sudah dilarang Allah, maka ia telah berusaha untuk menjaga agamanya, Contohnya seperti syirik atau menyembah kepada selain kepada Allah dalam prakteknya, bisa saja tanpa sengaja kita meminta doa kepada selain Allah demi kesembuhan sebuah penyakit. Dimana hal itu sudah terlihat jelas larangannya. Suatu bentuk penyekutuan Allah, yang jika dilakukan akan merusak agamanya. Contoh yang lainnya adalah mencuri yang kemudian uang hasil curiannya digunakan untuk kebaikan seperti infaq, membantu orang yang kesulitan, dll. Meskipun hal tersebut dilakukan dengan niatan baik, akan tetapi karena dilakukan dengan cara yang salah maka perilaku seperti ini tidak diperbolehkan, karena niat baik tidak dapat menghalalkan yang haram.

An-Nash

Yang kedua An-Nash atau memelihara jiwa, Allah sangat menganjurkan manusia untuk memelihara jiwa, baik dari segi kesehatan rohani maupun jasmani. salah satu contohnya adalah dengan cara menghindarkan diri agar jangan sampai melakukan perbuatan zina. degan melakukan upaya seperti itu maka ia telah berusaha untuk menjaga jiwanya dari suatu kemudharatan, karena seperti yang kita ketahui zina adalah suatu perbuatan yang amat dilarang dalam islam. Tidak hanya dosa sebagai bentuk urusannya kepada tuhan yang diperoleh, tetapi juga mudharat bagi kesehatan. karenanya Mengkonsumsi makanan yang halal juga tidak kalah pentingnya, selain baik bagi kesehatan jasmani nantinya akan berdampak pada pribadi diri.

Al-Aql

Selanjutnya yakni Al-Aql atau memelihara akal, salah satu hal yang harus kita lakukan demi memelihara akal adalah dengan menjauhi dan tidak mengkonsumsi minuman dan makanan yang haram. Dengan melihat dampak yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi khamr, jelas Bahwasannya dalam islam minuman yang memabukan itu dilarang.  hal itu sesuai dengan firman dan hadist bahwa Sesuatu yang memabukkan dapat merusak akal manusia. Hal yang lainnya yakni adalah judi. Judi adalah suatu jenis permainan yang dianggap sebagian banyak orang sebagai tempat atau ajang mengundi nasib. permainan ini juga dilarang karena secara tidak langsung dapat merusak akal manusia. keduanya sama-sama dapat menyebabkan ketergantungan yang berkesinambungan, akibatnya hidupnya hanya akan sia-sia belaka, karena akal sudah tidak mampu berfikir dengan jernih.

An-Nashl

Kemudin ada An-Nashl atau memelihara keturunan, mengkonsumsi makanan yang halal akan berdampak baik bagi keturunannya, menjadikan anak lebih mudah untuk diatur, beda hal nya jika makanan yang dikonsumsi tiap harinya adalah makanan yang haram, maka dampak yang ditimbulkannya adalah rusaknya akhlak dan kebaikan yang ada pada diri sang anak, akibatnya anak akan cenderung susah untuk diatur dan membangkang. Hal seperti itu jelas bukan sesuatu yang diharapkan bagi kaum orang tua. Karenanya mengkonsumsi makanan halal adalah suatu kewajiban bagi orang tua demi kebaikan sang anak.

Al-Maal

Yang terakhir adalah Al- Maal atau memelihara harta, dengan mengeluarkan zakat atau besedekah maka harta atau rezeki orang lain yang dititipkan Allah SWT. Kepada kita telah tersalurkan dengan semestinya. beda halnya jika kita tidak mengeluarkan zakat dan lebih memilih untuk menimbunnya, berarti secara tidak langsung kita telah mengingkari ketentuan Allah yang bahwasannya didalam harta kita ada hak orang lain, akibatnya keberkahan harta akan menjadi berkurang, dan dalam kehidupan sosial akan menimbullkan kecemburuan sosial dan berakibat pada munculnya rasa tidak suka atau bahkan rasa iri dari mereka yang kekurangan. Memelihara harta juga bisa dilakukan dengan menjauhi riba, karena riba adalah suatu bentuk perolehan harta yang diperoleh dengan jalan yang salah. Dengan mempelajari halal dan haram kita akan jadi tahu secara lebih banyak bagaimana caranya agar harta yang kita peroleh itu halal dan terbebas dari riba.

Oleh : Muhammad Aqil Habibie
Mahasiswa STEI SEBI