Perbedan Credit, Debit and Charge Card

0

Dewasa ini untuk melakukan transaksi, dapat digunakan berbagai sarana pembayaran,
mulai dari cara yang paling tradisional sampai dengan cara paling modern. Adapun cara paling modern yang sangat familiar digunakan masyarakat saat ini yaitu dengan menggunakan kartu kredit. Kartu kredit merupakan kartu yang dikeluarkan oleh bank ataupun lembaga keuangan dengan fungsi sebagai pengganti alat pembayaran. Tujuan diadakannya kartu kredit yaitu untuk meminimalisasi risiko dari pengguanaan uang tunai dan juga dianggap lebih mudah atau simple jika digunakan di kehidupan sehari-hari.

Penggunaan kartu kredit di Indonesia dimulai sekitar tahun delapan puluhan, dengan
keluarnya keputusan Menteri Keuangan Nomor 1251/KMK.013/1988. Dengan keluarnya
keputusan Menteri Keuangan ini bisnis kartu kredit pun digolongkan sebagai usaha jasa
pembiayaan. Dalam sistem kerja kartu kredit ada 3 pihak yang terlibat langsung yaitu, Bank dan Lembaga Pembiayaan, Pedagang (merchant) dan juga Pemegang Kartu (card holder). Dari segi fungsi, kartu kredit ini dibedakan atas beberapa jenis yaitu,

1. Credit Card
Kartu yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran transaksi jual-beli barang dan jasa,
kemudian pelunasan atas penggunaannya dapat dilakukan sekaligus atau secara angsuran
sejumlah minimum tertentu. Pemegang kartu kredit (Card Holder) akan diberikan kredit limit, sehingga penggunaan kartu kredit tidak boleh melebihi limit yang telah ditetapkan oleh bank penerbit (Issuer). Sesuai Fatwa DSN MUI No.54 tahun 2006, kartu kredit syariah menggunakan tiga akad yaitu kafalah (jaminan), qardh (pinjaman) dan ijarah. Dari akad ijarah, bank syariah mengambil fee. Artinya, tidak ada pemindahan hak milik dari pihak yang menyewakan dalam hal ini bank kepada pihak penyewa atau nasabah.

Skema kafalah memungkinkan bank menjadi penjamin bagi nasabah atas transaksi yang
dilakukannya. Penjamin kepada pihak merchant.Skema terakhir adalah qardh, nasabah membeli barang atau jasa menggunakan kartu kredit syariah dengan pinjaman, artinya ia wajib mengembalikan jumlah pokok yang diterima pada waktu yang telah disepakati bersama.

2. Debet Card

Merupakan kartu kredit yang pembayaran atas penagihan nasabah melalui pendebitan
rekening nasabah yang ada di bank saat membuka kartu kredit. Dengan pendebitan tersebut maka otomatis rekening nasabah akan berkurang sejumlah transaksi yang dilakukan dengan kartu kreditnya.

3. Charge Card

Merupakan kartu kredit dimana pemegang kartu harus melunasi semua tagihan yang
terjadi atas transaksinya sekaligus pada saat jatuh tempo. Penggunaan kartu ini tidak dibatasi limitnya. Keterlambatan pembayaran kartu ini akan dikenakan denda keterlambatan (late charge) oleh bank sebesar persentase tertentu. Namun kelebihannya pemegang kartu ini tidak akan dikenakan bunga setiap pembayarannya.
Fatwa DSN No : 42/DSN-MUI/V/2004, yang menetapkan bahwa penggunaan charge
card (salah satu dari macam kartu kredit) secara syariah diperbolehkan, dengan ketentuan–ketentuan sebagai berikut,

• Ketentuan umum
• Ketentuan Akad
• Ketentuan dan batasan (dhawabith wal hudud) Syariah Charge Card :

a. Tidak boleh menimbulkan riba;
b. Tidak digunakan untuk transaksi objek yang haram atau maksiat;
c. Tidak mendorong israf (pengeluaran yang berlebihan antara lain dengan cara menetapkan pagu);
d. Tidak mengakibatkan utang yang tidak pernah lunas (ghalabah al-dayn); dan
e. Pemegang kartu utama harus memiliki kemampuan finansial untuk melunasi pada waktunya. Contoh pada saat Nabi SAW

oleh : Novita Dewi (STEI SEBI)