PERDAGANGAN ELEKTRONIK (E-COMMERCE) DALAM PANDANGAN ISLAM

0


Euis Juhrotul Hasanah
Program Studi Hukum Ekonomi Syariah STEI SEBI

Pengertian dan Sejarah E-Commerce
Perdagangan elektronik atau sering dikenal dengan e-commerce merupakan bisnis yang sedang berkembang sangat cepat di Indonesia, e-commerce merupakan transaksi yang berhubungan dengan internet. Namun belum banyak orang yang mengetahui pengertian e-commerce, berikut pengertian e-commerce oleh beberapa ahli menurut Shely Cashman E-commerce kependekan dari elektronik commerce, merupakan transaksi bisnis yang terjadi dalam jaringan elektronik, seperti internet. Siapapun yang dapat mengakses komputer, memiliki sambungan ke internet, dan memiliki sambungan ke internet, dan memiliki cara untuk membayar barang-barang atau jasa yang mereka beli, dapat berpartisispasi dalam e-commerce.

Jadi e-commerce adalah proses jual beli yang dilakukan melalui jaringan internet. Kalakota dan Whinston (1997) meninjau e-commerce dari empat perspektif yang berbeda (putra, 2019): pertama, dari perspektif komunkasi, e-commerce adalah penyediaan produk (barang, jasa, informasi) dan pembayaran melalui jaringan komputer atau peralatan elektronik yang lain. Kedua, dilihat dari perspektif pelayanan, e-commerce diartikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dan konsumen yang sangat menguntungkan.

Hal ini karena dapat meminimalkan biaya sekaligus meningkatkan kualitas dan kecepatan pelayanan terhadap konsumen. Ketiga, ditinjau dari perspektif proses bisnis, e-commerce merupakan aplikasi dari kemajuan teknologi yang bertujuan memudahkan transaksi bisnis sekaligus langkah-langkah pelaksanaan pekerjaan. Keempat, dilihat dari perspektif online, e-commerce memungkinkan terjadinya proses jual/beli produk (barang, jasa, informasi) melalui internet dan layanan online lainnya.

Sejarah e-commerce di Indonesia pertama pada tahun 1994 saat pertama kali banner-elektronik dipakai buat tujuan promosi dan periklanan disuatu halamam-web. Seiring berjalannya waktu pemanfaat transaksi elektronik tidak hanya pada transaksi komersial, seperti penggunaan EDI untuk mengirim dokumen komersial seperti pesanan pembelian atau invoice secara elektronik, yang kemudian berkembang menjadi aktivitas perdagangan web, yaitu kegiatan perdagangan melalui world wide web melalui server aman (https), protokol server khusus yang menggunakan data penting pelanggan.

Macam-macam E-Commerce

Individu atau pelaku bisnis yang terlibat dalam e-commerce, baik itu pembeli maupun penjual mengandalkan teknologi internet untuk melakukan transaksi. E-commerce memungkinkan untuk melakukan transaksi kapan saja dan dimana saja. Berikut macam-macam e-commerce dan contohnya (Mahir, 2015) :


Transaksi Digital dalam Islam

Pemenuhan kebutuhan merupakan tujuan dari adanya aktivitas ekonomi, dan pencarian terhadap tujuan ini adalah kewajiban agama. Dengan kata lain, manusia berkewajiban untuk memecahkan berbagai permasalahan ekonominya demi melangsungkan kehidupannya sesuai dengan syariat. Asy syaitibi berpendapat bahwa setiap aktivitas ekonomi seperti halnya, produksi, konsumsi, distribusi dan pertukaran yang menyertakan kemashlahatan harus diikuti sebagai kewajiban umat manusia untuk memperoleh kebaikan didunia dan akhirat.

Dengan berkembangnya teknologi yang tidak bisa dihindari, dengan berbagai fitur dan kemudahannya transaksi bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, cukup pilih barang/jasa yang dibutuhkan kemudian tansfer uang, maka konsumen akan menerima barang/jasa tersebut. Bila dikaitkan dengan konsep maqashid Syariah , jelas bahwa dalam pandangan islam, motivasi manusia dalam melakukan aktivitas ekonomi adalah untuk memenuhi kebutuhannya dalam arti memperoleh kemashlahatan dunia dan akhirat. Kebutuhan yang belum terpenuhi merupakan kunci utama dalam suatu prosses motivasi. Karena seseorang akan merasa terdorong untuk berprilaku apabila terdapat kekurangan dalam dirinya.

Transaksi online atau jual beli online boleh dilakukan ketika ketentuan barang halal dan tidak dilarang dalam syara’ seperti barang memabukan, mengandung najis, dan kemadharatan lainnya. Selain itu, barang harus jelas spesifikasinya, tidak mubadzir muhammad Abduh berpendapat bahwa ekonomi merupakan sikap moderat dalam pengeluaran/belanja. Artinya, pemilik harta tidak boleh terlalu boros dalam pengeluaran dan belanja tidak pula terlalu hemat atau pelit,tetapi harus dipilah dan dipilih mana yang paling utama, terdapat hak pembeli untuk mengembalikan barangnya jika tidak sesuai pesanan, serta sesuai dengan skema jual beli dalam syariat islam.

Adapun syarat mendasar dibolehkannya transaksi online (Nur, 2017), yaitu :

Tidak melanggar ketentuan syariat agama seperti transaksi bisnis yang diharamkan karena mengandung gharar dan riba, terjadinya kecurangan, kedzaliman monopoli dan penipuan. Muhammad abduh sanggat mengecam pelaku dzalim dalam ekonomi. Bahkan ia menganggapnya sebagai jenis kedzaliman yang paling kejam.

Adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli, saling ridha , dan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan tidak sesuai maka ada kesepakatan untuk melanjutkan transaksi atau membatalkannya

Adanya pengawasan dan aturan hukum yang tegas dari pemerintah untuk menjamin dibolehkannya bisnis dengan transaksi online.

Adapun menurut jumhur ulama rukun jual beli ada empat, berikut rukun dan syarat jual beli yaitu :

Orang yang berakad (penjual dan pembeli)

Pelaku akad harus dapat melaksanakan kewajian dan mendapatkan hak sebagai pelaku akad, dan dapat menunaikan kewajiban sesuai dengan syariah (DR. Oni Sahroni, 2017). Pelaku akad mempunyai akal sehat dan tanpa adanya paksaan dalam melakukan transaski. Poin penting yang harus diperhatikan yaitu status kepemilikan sebagai pemilik, atau perwakilan. Atau hanya menawarkan jasa dengan mengisyaratkan imabalan, atau sekedar pedagang yang tidak memiliki barang namun bisa mendatangkan barang yang ditawarkan (Nur, 2017)

Shigat (ijab qabul)

Ijab qabul harus jelas menunjukan keinginan pihak-pihak akad. Shigat harus menjelaskan objek akad yang ditegaskan oleh mujib (orang yang berakad), shigat qabul harus menjelaskan harga sebagaimana yang dijelaskan mujib. Ijab qabul dilakukan ditempat akad (dalam media online dapat dilakukan situs atau web yang bersangkutan). Tidak ada pembatalan sebelum pihak lainmenerima qabul (DR. Oni Sahroni, 2017).

Barang yang diperjual belikan

Barang dan jasa dalam perniagaan halal, islam mengharamkan barang dan jasa yang haram, sebagaimana dijelaskan dalam hadits :”sesungguhnya bila Allah telah mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, pasti ia mengharamkan pula hasil penjualannya”. (HR Ahmad,dan lainnya).

Barang dan jasa ada atau tidak ditempat tetapi pihak penjual menyatakan kesanggupan untuk mengadakan barang itu. Dalam jual beli online yang tentu barang dan jasa tidak dalam wujud nyata melainkan dalam bentuk foto, untu itu dalam penjualan secara online pemilik bisnis atau usaha harus mendeskripsikan barang tersebut secara detail, baik ukuran, warna dan lainnya. Barang yang dijual dapat diserah terimakan sesuai kesepakatan.

Nilai tukar

Unsur penting dalam jual beli yaitu nilai tukar. Pada dasarnya dizaman sekarang uang merupakan alat transaksi yang berguna sebagai refleksi nilai dari suatu barang atau jasa. Karena karakternya yang dapat dipecah-pecah (berdasarkan nilai nominal yang melekat pada uang tersebut) membuat uang menjadi cukup praktis dijadikan alat tukar yang memperlancar transaksi perekonomian (Ali, 2007). menurut Al-Maqrizi mengindikasikan bahwa mata uang yang dapat diterima sebagai standar nilai baik menurut hukum, logika, maupun tradisi hanya yang terdiri dari emas dan perak. Lebih lanjut lagi ia menyatakan bahwa keberadaan fulus tetap diperlukan sebagai alat tukar terhadap barang barang yang tidak signifikan dan untuk berbagai biaya kebutuhan rumah tangga sehari hari. Seiring berkembangnya aktivitas ekonomi, bentuk uang pun kemudian berkembang pada bentuk-bentuk yang lebih canggih.

Saat ini perkembangan uang elektronik berkembang sangat pesat selaras dengan perkembangan teknologi, terutama pada masa pandemi yang terjadi saat ini, uang elektronik merupakan salah satu alternatif untuk melakukan pembayaran dalam bertransaksi.

Fatwa DSN NO:116/DSN-MUI/IX/2017 tentang uang elektronik syariah, menjelaskan kriteria e-money sesuai prinsip syariah, yaitu : pertama, terhindar dari transaksi yang dilarang. Kedua, biaya layanan fasilitas adalah biaya ril sesuai dengan prinsip ganti rugi/ijarah. Ketiga, ditempatkan di bank syariah. Keempat, dalam hal kartu e-money hilang, jumlah nominal uang yang ada di penerbit tidak boleh hilang. Kelima, akad antara penerbit dan para pihak dalam penyelenggaraan e-money (prinsipal, acquirer, pedagang, penyelenggara kliring, dan penyelenggara penyelesai akhir) adalahijarah, ju’alah, dan wakalah bil ujrah, karena produk yang dijual adalah jasa. Akad antara penerbit dengan pemegang e-money adalah Wadiah atau qard,karena nominal uang bisa digunakanatau ditarik kapan saja. Diantara penerbit dengan agen layanan keuangan digital adalah ijarah, jua’alah dan wakalah bi’ujrah (Ust. DR. Oni Sahroni, 2019).

Kesimpulan

Dalam pandangan islam, hukum transaksi e-commerce diperbolehkan berdasarkan prinsip mashlahah, yaitu mengambil manfaat dan meninggalkan kemadharatan dalam memenuhi syara’. Dilihat dari segi mekanisme, transaksi e-commerce juga diperbolehkan dengan memenuhi rukun dan syarat jual beli, karena bentuk e-commerce merupakan proses binis transaski dengan menggunakan komputer sehingga dikategorikan kedalam jual beli modern.

Salah satu syarat jual beli adalah objeknya harus jelas dan dapat diserah terimakan, seperti pada firman Allah SWT dalam QS. Al- Baqarah ayat 282 yang artinya “hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…”.

seperti dalam hadits dari Abdullah bi Abbas dikatakan bahwa “Nabi SAW berkata, datang ke madinah, dimana masyarakat melakukan transaski salam (memesan) kurma selama dua tahun dan tiga tahun, kemudian Nabi bersabda, “barang siapapun melakukan akad salam terhadap sesuatu, hendaklah dilakukan dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas dan sampai batas waktu yang jelas”.

DAFTAR PUSTAKA

Ain, R. (2015). Mekanisme Pasar dalam Islam. https://media.neliti.com .
Ali, S. (2007). analisis teoritis ekonomi islam jawaban atas kekacauan ekonomi modern. paradigma & aqsa-publishing.
DR. Oni Sahroni, M. D. (2017). Fikih Muamalah dinamika teori akad dan implementasinya dalam eokonomi syariah. Depok: Rajawali Pers.
Mahir, P. (2015). klasifikasi Jenis-Jenis E-Commerce di indonesia. https://journal.trunojoyo.ac.id, 36-37.
Nur, F. T. (2017). Bisnis Jual Beli Online (Online Shop) dalam Hukum Islam dan Negara. https://jurnal.stie-aas.ac.id.
putra. (2019). E-commerce adalah : Pengertian, Manfaat, Sejarah, Jenis & Contohnya. http://salamadian.com.
Ust. DR. Oni Sahroni, M. (2019). Fikih Muamalah Kontemporer. Jakarta: Republika.