Perkembangan asuransi syariah di masa pandemi

0

Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sutan Emir Hidayat mengatakan Fase Pandemi Covid-19 telah berdampak ke semua sektor termasuk industri keuangan syariah, tidak terkecuali asuransi syariah. Meski mengalami pertumbuhan kontribusi, beberapa indikator menunjukkan perlambatan.

“Secara umum, industri asuransi syariah mencatatkan pertumbuhan kontribusi sepanjang 2020, di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Indokator kinerja lainnya seperti aset dan investasi mengalami perlambatan,” kata Sutan Emir Hidayat, Kamis (8/4).

Emir mengatakan, rata-rata kerugian yang dialami industri asuransi secara global sebesar 35 persen dari kapitalisasi pasar setelah pandemi Covid-19 melanda dunia. Penurunan signifikan terjadi pada Hasil Investasi seiring dengan anjloknya kinerja pasar modal sepanjang tahun 2020.

Di sisi lain, Emir melihat, industri asuransi syariah di Indonesia masih memiliki peluang dan potensi yang besar untuk bertumbuh. Hal tersebut didukung oleh meningkatnya proporsi jumlah penduduk Muslim kategori milenial yang mulai sadar berinvestasi syariah.

Berdasarkan survei, minat milenial berasuransi syariah juga naik dari 40 persen menjadi 58 persen. Industri asuransi syariah juga mendapatkan efek domino dari layanan syariah Tapera dan Jamsostek. Selain itu, asuransi syariah juga mendapat efek domino dari Qanun Syariah di Aceh serta merger Bank Syariah Indonesia (BSI) & perbankan yang berkonversi menjadi Bank Umum Ssyariah (BUS) yang tentu memerlukan mitra asuransi syariah.

Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) mencatatkan pertumbuhan kontribusi premi industri asuransi syariah di Indonesia pada kuartal III/2020 ini mengalami pertumbuhan positif walaupun sangat tipis, yaitu 1,8 persen dengan pendapatan kontribusi sebesar Rp11,96 triliun.

Hingga akhir tahun 2020, AASI optimistis dengan proyeksi pertumbuhan kinerja industri asuransi syariah sebesar 2,0 persen dengan kontribusi sebesar Rp17,04 triliun. Sedangkan untuk tahun 2021 nanti, AASI memproyeksi pertumbuhan di angka 10 persen, dengan pendapatan kontribusi premi di sekitar Rp18,71 triliun.Pada tahun 2019 tercatat sebesar Rp 514 miliar, dan pada tahun 2020 meningkat menjadi Rp 532 miliar.

Menurutnya, ini seperti yang terjadi pada tahun 1998, dimana saat industri lainnya krisis, malah sebagian perusahaan asuransi saat itu mengalami peningkatan dari segi laba.

Peningkatan industri asuransi syariah selanjutnya juga dapat dilihat dari pelaku usaha yang dari tahun ke tahun selalu mengalami pertumbuhan. Artinya, minat investor untuk menggarap pasar asuransi syariah ini masih sangat tinggi.Tandasnya.

Oleh : Hanarul Hidayat
Mahasiswi STEI SEBI