Proses Pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan Timur Jadi Bahasan Media Internasional

0

JAKARTA – Pengumuman soal pemindahan Ibu kota baru Republik Indonesia telah diputuskan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan penetapannya di Kalimantan Timur (Kaltim).

Melalui konferensi pers, Presiden Jokowi didampingi sejumlah pejabat seperti Gubernur Kaltim Isran Noor, menyatakan keputusan itu diambil setelah pemerintah melakukan kajian intensif dan mendalam.

“Lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur,” ungkap presiden, kemarin.

Pengumuman pemindahan Ibu kota negara yang disampaikan Jokowi tidak saja menjadi headline pemberitaan media Tanah Air. Namun juga tidak luput dari sorotan berbagai media internasional.

Beberapa Media internasional baik dari Asia maupun Amerika Serikat (AS) turut membeberkan laporan soal pemindahan ibu kota Indonesia.

THE NEW YORK TIMES

Salah satu media yang memberitakan relokasi ibu kota dari Jawa adalah New York Times dengan mengangkat judul Indonesia’s Capital Is Sinking, Polluted and Crowded. Its Leader Wants to Build a New One.

Dalam tulisan pembukaannya, The Times menceritakan Jakarta dengan kualitas udaranya masuk kategori terburuk di dunia, kemacetan yang melegenda, hingga bahaya berjalan di trotoar.

The Times juga melansir bagaimana Jokowi hendak memindahkan ibu kota Indonesia yang baru ke Kalimantan. Pulau yang terkenal akan satwa orangutan hingga hutan hujan tropis.

Diungkapkan, proyek relokasi itu diprediksi bakal menghabiskan dana Rp 466 triliun. Sebanyak 19 persen bakal didanai dari APBN. Sisanya dari Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dan swasta.

The Times juga mengungkap, Jakarta berdiri sejak abad ke-14, dan selama berabad-abad berfungsi sebagai ibu kota para raja serta sultan, sebelum kedatangan Belanda pada 1600-an.

Dengan penjajahan Belanda kota itu berubah jadi Batavai dan merupakan markas Kantor Hindia Belanda Timur, dan sempat dilanda wabah malaria.

Keputusan memindahkan ibu kota, tulis The Times, dipicu fakta mulai menurunnya tanah setidaknya dua inchi setiap tahun.

THE WHASINGTON POST

Media asal AS ini memilih judul Welcome to the Jungle: Indonesia Memilih Lokasi untuk Ibu Kota Baru. “Indonesia tengah mengeringkan rawa.” Begitulah kalimat pembuka yang dipakai.

Diberitakan The Post, Presiden Jokowi disebut telah memilih lokasi di tempat yang belum diumumkan. Konstruksi atas area seluas 182.108 hektar tahun depan, dan pemindahan dilakukan 2024 mendatang.

Selama bertahun-tahun, memindahkan ibu kota memang sudah dibahas. Namun dalam beberapa tahun terakhir, isu tersebut perlu segera mendapat pembahasan.

Lonjakan populasi membuat kawasan Jakarta dan sekitarnya dipenuhi 30 juta jiwa. Menciptakan daerah metropolitan yang tidak hanya sangat padat, namun juga tercemar.

Jakarta yang terletak di ujung barat Jawa, pulau terpadat di dunia yang menampung lebih dari setengah total populasi Indonesia yang mencapai 260 juta jiwa.

Problem terbesar yang membuat pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur mendesak adalah fakta dua perlima kota itu berada di bawah permukaan laut sehingga ancaman tenggelam jadi besar.

Di beberapa daerah, permukaan mulai surut sebanyak 10 persen per tahun. Fenomena yang disebabkan penggalian akuifer bawah tanah dan diperparah perubahan iklim.

Memindahkan ibu kota bakal memberikan tantangan tersendiri. Demikian keterangan Arya Fernandes, peneliti dari Centre for Strategic and International Studies.

“Merelokasi dari Jakarta tidak akan semudah membalik telapak tangan. Jakarta jelas tetap menjadi jangkar bagi kehidupan politik Indonesia,” jelasnya.

Fernandes mengatakan, pengumuman itu nampaknya menjadi upaya Jokowi untuk menorehkan warisan sebagai pemimpin yang mengedepankan infrastruktur sejak menjabat pada 2014.

BBC

Harian Inggris ini memberitakan bagaimana Presiden Jokowi mengumumkan Borneo (Kalimantan) sebagai lokasi ibu kota yang akan dipindahkan 2024 mendatang.

Dengan judul “Indonesia Memilih Pulau Borneo sebagai Lokasi Ibu Kota Baru”, BBC menekankan bagaimana lokasi pasti ibu kota yang diumumkan.

“Proyek ambisius ini akan menelan Rp 466 triliun. Namun kemacetan Jakarta sudah merugikan ekonomi negara setidaknya Rp 100 triliun rupiah setiap tahunnya,” ulas BBC.

THE TELEGRAPH

Di balik judul Indonesia’s government reveals location of new capital as Jakarta sinks, media Inggris lain The Telegraph memaparkan alasan mengapa ibu kota Indonesia harus dipindah.

Deputi Bidang Pengembangan Regional Kementerian PPN/Bappenas Rudy Prawiradinata berkata, pemerintah belajar dari negara lain yang memindahkan ibu kota mereka.

Salah satunya, Malaysia yang berpindah dari Kuala Lumpur ke Putrajaya, dan Brasil dari Rio de Janeiro ke Brasilia. Rudy menuturkan relokasi memberi dampak ekonomi.

“Saya pikir imbas ekonomi yang bisa dihasilkan di Brasil begitu bagus. Jadi saya rasa bisa menjadi contoh bagi kammi,” kata Rudy seraya berujar, isu lingkungan bakal jadi perhatian utama desain ibu kota baru, seperti dikutip dari Kompas.com, Selasa (27/08).

Tetapi, Rudy menekankan pemindahan ke Kalimantan bertujuan demi pemerataan ekonomi di seluruh Indonesia dibanding pandangan solusi satu arah saja.

Rudy menjamin Jakarta masih akan menjadi pusat finansial Indonesia. Seperti yang terlihat dari relasi antara New York dengan Washington DC di AS.

Namun kekhawatiran Jakarta mungkin akan diabaikan jika tidak lagi jadi ibu kota, juga diungkap Elisa Sutanudjaja dari Rujak Center for Urban Studies.

“Orang-orang yang mungkin bersemangat karena pemindahan adalah para pengembang. Dengan memindahkan ibu kota tidak akan menyelesaikan masalah-masalah di Jakarta,” lanjut Elisa.

Totok. H