Rumah Bersama Kerukunan Keluarga Kawanua

0

Jakarta – koranprogresif.co.id – Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK), adalah wadah berkumpulnya masyarakat asal Sulawesi Utara, khususnya Minahasa, yang tersebar di luar tanah Leluhur, Nyiur Melambai.

Hal tersebut disampaikan Dr. Jerry Massie, PhD, Direktur Eksekutif Political and Publik Policy Studies kepada wartawan di Jakarta, Jum’at (24/5).

Dijelaskannya, KKK didirikan 46 tahun silam oleh beberapa tokoh asal Tondano tepatnya pada 21 Mei 1973 di Jakarta

Sayangnya, kepengurusan Organisasi besar masyarakat Kawanua ini beberapa tahun terkahir terbelah menjadi dua.

Ada KKK yang diwadahi oleh Ronny Sompie dan ada juga KKK yang dipimpin oleh Angelica Tengker.

Baik Ronny Sompie dan Angelica Tengker, keduanya sama-sama mengusung berbagai program yang selalu mengangkat nama baik Kawanua, khusunya dibidang pelestarian budaya, adat dan berbagai sumber daya alam yang ada di Tanah Leluhur, Minahasa.

Ronny Sompie menjabat Ketua Umum KKK sebagai estafet dari Pdt Jimmy Tampi pada bulan Mei 2017

Di tengah kesibukannya sebagai Dirjen Imigrasi, dan berlatar belakang sebagai mantan Perwira Tinggi Polri, peran Ronny Sompie sangat berpengaruh dan jelas dalam memberikan sumbangsihnya dalam menjalankan roda organisasi KKK.

Ronny Sompie dinilai berhasil menjadikan organisasi ini semakin dikenal melalui berbagai kegiatan keagamaan, kebudayaan, dan atau lainnya.

Misalnya, dalam perayaan Natal, Tahun Baru dan Kunci Taon serta Paskah, kehadiran warga Kawanua sangat antusias sebagai ajang baku dapa dari berbagai pelosok yang tersebar di seantero jagad raya.
Demikian juga dengan program-program budaya dan kesenian khas Minahasa, semakin terangkat dan dikenal oleh masyarakat luas.

KKK di bawah kepemimpinan Ronny Sompie memiliki azas legalitas dan disahkan Kementerian Hukum dan HAM RI, sebagai suatu Badan Hukum Perkumpulan yang nota bene bukan merupakan Organisasi Masyarakat untuk Paguyuban Adat dan Budaya.

Perkumpulan Kerukunan Keluarga Kawanua ini meski legalitas yang dimiliki bukan untuk Paguyuban Adat dan Budaya, hal ini tidak menjadi halangan organisasi ini untuk tetap berkiprah, dengan konsekwensi tidak mendapat dukungan dari Pemerintah.

Artinya, dalam hal ini tidak mendapatkan dukungan berupa pembinaan dari Kementerian Dalam Negeri CQ. Direktorat Kesatuan Bangsa, yang mempunyai kewenangan pembinaan terhadap suatu Organisasi Masyarakat (Ormas) Paguyuban Budaya & Kesenian, untuk pengembangan konten lokal dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk.

Sementara, Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) yang dipimpin oleh Angelica Tengker, merupakan estafet kepemimpinan dari Benny Mamoto, melalui Musyawarah Perwakilan Anggota (MPA).

Angelica Tengker dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum KKK terus melakukan berbagai program kerja dan kegiatan yang sama di bidang keagamaan, sosial, budaya dan kesenian.

Misalnya, Pada acara HUT 45 tahun KKK tahun 2018 lalu, yang digelar selama 3 hari di Anjungan Sulut TMII dan JHCC, Jakarta, Kepengurusan KKK Angelica Tengker menghadirkan beberapa perwakilan negara sahabat, termasuk hadir Duta Besar (Dubes) Ethiopia untuk Indonesia.

Tentunya, hal ini merupakan prestasi yang menggembirakan dalam saling memperkenalkan adat seni budaya.

KKK Angelica Tengker, secara aktif ikut serta dalam berbagai perhelatan budaya dan kesenian di Tanah Leluhur dan meraih prestasi sebagai juara umum TIFF 2018, kemudian sebagai peserta parade Festival Selat Lembeh 2018, Manado Fiesta, dan lain-lain.

Secara organisasi, jajaran kepengurusan KKK yang dipimpin oleh Angelica Tengker memiliki Surat Keterangan Terdaftar di Kementerian Dalam Negeri CQ. Kesbangpol, dan telah dilengkapi dengan Hak Paten Kepemilikan Logo dan nama KKK yang diterbitkan oleh Kementerian Hukum & HAM RI.

Itulah sedikit latarbelakang dua oraganisasi besar Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) yang ada saat ini. Namun demikian, baik KKK dibawah kepemimpinan Ronnie Sompie dan KKK yang dinahkodai oleh Angelica Tengker sama-sama membuat langkah positif untuk nama besar Kawanua dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Meski ada dua kepengurusan, Kedua organisasi Kawanua ini melakukan Ibadah Paskah secara bersama-sama pada awal Mei 2019. Kemudian Kedua Ketum KKK Ronny Sompie dan Angelica Tengker hadir secara bersamaan di acara Ibadah Pelepasan salah seorang Pendiri KKK, Alm. Kol. Christian Lalamentik, sekaligus mengadakan upacara adat Minahasa sebagai penghormatan kepada almarhum sebagai Tokoh Kawanua.

Artinya, langkah positif yang dilakukan oleh kedua Ketua Umum KKK untuk mewujudkan KKK sebagai Wale Wangko (Rumah Bersama) selama ini mulai menemui titik terang.
Pasalnya, Ronny Sompie, pada acara Paskah Bersama yang dihadiri bersama kedua kepengurusan KKK, mengatakan, bahwa dirinya akan tetap punya komitmen untuk terus melayani, dan tidak harus sebagai Ketua Umum, misalnya masuk dalam jajaran Dewan Penasihat.

Dengan adanya sikap Ronny Sompie ini, ditambah dengan aspek legalitas kedua organisasi, maka langkah untuk mewujudkan “Rumah Bersama”, dapat dikatakan hampir rampung.

Namun demikian, pendekatan organisasi dalam mewujudkan “Rumah Bersama” tentunya sangat berpulang kepada para pengurus yang ada dikedua organisasi tersebut.

“Ketika KKK akan tetap pada organisasi masyarakat untuk paguyuban sosial budaya dan kesenian, maka seyogyanya Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Kemendagri dapat menjadi referensi, sehingga penyelesaian beda pendapat dapat diakhiri, dan KKK menjadi solid dan semakin kuat untuk masyarakat, bagi Sulawesi Utara, bangsa dan negara, khususnya masyarakat Kawanua di rantau di manapun berada,” pungkas Jerry Massie yang juga selaku Putra Kawanua. (Red).