Seperti Main Pingpong, Kejari Depok Lempar Berkas Perkara NMI ke Polresta Depok

0

DEPOK – Pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok seperti bermain pingpong dalam penanganan berkas perkara dugaan tindak pidana korupsi yang sudah menetapkan mantan Walikota Nur Mahmudi Ismail (NMI) sebagai tersangka dalam pengadaan lahan Jalan Nangka Kelurahan Sukamaju Baru, Kecamatan Tapos, Kota Depok, yang berdasarkan audit BPKP Provinsi Jawa Barat, mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 10,7 Miliar.

Pihak Kejari Depok terhitung telah sebanyak lima kali mengembalikan berkas perkara tipikor NMI ke Penyidik Polresta Depok dengan alasan berkas tersebut belum lengkap. Dengan demikian setelah NMI ditetapkan menjadi tersangka berarti sudah selama tujuh bulan berkas perkara tersebut bolak-balik tak ubahnya seperti main pingpong sehingga perkara NMI belum juga dapat disidangkan di Pengadilan.

“Saya kemarin sudah menjelaskan. Itu berkas masih tahap penyidikan dimana petunjuk yang kami berikan belum dipenuhi maka kami kembalikan lagi ke Polresta Depok untuk dilengkapi. Itu tahapannya yang harus dipenuhi agar berkas dapat dinyatakan lengkap,” tutur Sufari, Kajari Depok, Selasa (26/3/2019).

Sufari menjelaskan alasan kenapa berkas NMI dikembalikan berulang kali ke Polresta Depok karena fakta hukum dan barang bukti di dalam berkas acara penyidikan NMI belum dapat dinyatakan lengkap.

“Petunjuk yang kami berikan itu hanya dua, yakni kelengkapan formil dan kelengkapan materil. Kelengkapan materil itu seperti apa, yaitu berupa perbuatan tersangka dan fakta hukumnya itu tidak memenuhi unsur yang disangkakan Penyidik ke Tersangka dan juga tidak didukung dengan alat bukti dan barang bukti makanya berkas itu belum lengkap,” ungkap Kajari.

Perlu diketahui, selain menetapkan mantan Walikota NMI sebagai tersangka, Polresta Depok juga menetapkan mantan Setda Kota Depok Harry Prihanto sebagai tersangka kasus korupsi Jalan Nangka yang bersumber dari APBD Kota Depok Tahun 2015 yang berdasarkan audit BPKP Provinsi Jawa Barat telah mengkibatkan kerugian negara sebesar Rp 10,7 Miliar.

NMI dan Harry Prihanto ditetapkan sebagai tersangka sejak 20 Agustus 2018 lalu dan sampai saat ini berkas NMI dan Harry Prihanto sudah lima kali bolak balik dari Kejari Depok ke Polresta Depok dengan alasan berkas tersebut belum lengkap. ( jim )