Warga Stren Kali Surabaya Dapat Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

0

Jatim – Warga stren Kali Surabaya mendapatkan pelatihan pembuatan pupuk organik dari eceng gondok oleh Konsorsium Lingkungan Hidup (KLH).

Direktur KLH,  Imam Rochani mengatakan, kegiatan ini selain bermanfaat untuk mengurangi eceng gondok di Kali Surabaya, juga bisa melatih masyarakat untuk membuat pupuk sendiri.

Menurutnya, masyarakat wajib mengetahui hal itu dan nantinya apabila dikelola dengan baik bisa bermanfaat secara ekonomi dan kesehatan pula.

“Enceng gondok ini punya banyak manfaat untuk pengobatan, pakan ternak, hingga sebagai pupuk cair organik,” kata Imam di sela sosialisasi Rumah Kompos Jalan Karah Surabaya, Sabtu (22/12) siang.

Dikatakan Imam,  eceng gondok memiliki 70 persen kandungan vitamin A1, B,  C, kalium, fosfor, zat besi, kalori, karbohidrat dan sebagainya. Juga dapat digunakan sebagai pengobatan. “Ada 16 pengobatan yang parameternya ada pada Eceng Gondok. Mulai demam, sakit gigi, ginjal, dan lain-lain,” jelas Imam.

“Selain dapat digunakan sebagai pengobatan, Eceng Gondok juga dapat sebagai pupuk. Dari hasil pupuk organik yang terbuat Eceng Gondok, selisihnya cuma nol koma dari pupuk lain. Dengan demikian manfaatnya sangat bagus bila digunakan sebagai pupuk tanaman,” imbuhnya.

“Dari pelatihan ini warga bantaran sungai diharapkan bisa membantu meningkatkan ekonomi melalui eceng gondok yang ada di bantaran sungai. Kami ingin menciptakan masyarakat Karah dengan ikon Eceng Gondok dikelola dalam bentuk apapun, baik pakan ternak, kerajinan, pupuk organik, atau pengobatan. Sehingga menjadi sentra UMKM di Kelurahan Karah. Dan ini tadi sudah ada yang pesan untuk pakan ternak,” harap Imam.

Sementara, Bendahara KLH, Samsul Hadi menjelaskan proses pembuatan pupuk cair organik. Eceng gondok dan kangkung yang diambil di sungai yang kemudian dinaikkan, selang waktu dua jam,  tanaman  rajang dan masukan ke mesin giling. Kemudian dari hasil giling dimasukan kedalam tong. “Kita campur kotoran hewan dan EM4 (zat urai kimia penghilang bau). Dibiarkan lebih kurang 23 hari,” papar Hadi.

Selama 23 hari, hasil dari fermentasi itu diperas, dimasukkan dikemas dalam botol. Dengan demikian pupuk organik cair bisa digunakan sebagai pupuk tanaman.Eceng gondok sisa perasan tadi bisa dijemur untuk digunakan menjadi pupuk kering organik.

Ditempat yang sama, Budi Yusvandayani Lurah Karah mengaku senang dengan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan oleh KLH. Apalagi ada kesamaan persepsi tentang program dari Kecamatan Jambangan dengan mengajak warga untuk peduli dengan kebersihan sungai.

Apabila warga sendiri telah tertib, tambah Yani panggilan akrab Budi Yusvandayani, maka dari pihak KLH berjanji untuk memberikan pelatihan kepada warga untuk mengolah enceng gondok menjadi pakan ternak.

“Saya sendiri antusias dengan program yang sudah digalakkan oleh pak Imam dengan berkomitmen melatih dan mengembangkan kemampuan warga untuk menjadikan tanaman tersebut mempunyai nilai ekonomis,” kata Yani yang baru dua bulan ini menjabat sebagai Lurah Karah.

Yani sendiri yakin bahwa olahan enceng gondok itu bisa menjadi ikon dari Kelurahan Karah dan bisa menjadi contoh kelurahan lainnya. Yang harus diingat bahwa kedepannya bisa meningkatkan perekenomian warga dan mengurangi angka pengangguran.

“Kami support dan kita bantu untuk memasarkan produk olahan enceng gondok untuk menjadikannya sebagai ikon dari Kelurahan Karah. Saya yakin itu bisa berhasil,” imbuhnya. ( Yoyok / Ningsih )